[baca buku] Bahagia Beragama Bersama Gus Baha

Gus Baha adalah oase di tengah merebaknya penceramah agama atau orang-orang yang berharap dianggap demikian yang lebih senang menampilkan agama sebagai sesuatu yang kaku dan bahkan cenderung wagu. Mereka kerap menampilkan wajah Tuhan sebagai sosok yang kejam dan penuh ancaman. Padahal Tuhan adalah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Dengan penampilan dan model penyampaian yang sederhana Gus Baha mengembalikan marwah agama yang sebenarnya bahwa agama adalah sumber kebahagiaan.

Bahagia Beragama Bersama Gus Baha

Penulis : Khoirul Anam

Terbit : 2022

Penerbit : PT. Elex Media Komputindo, Jakarta

ISBN : 978-623-00-3476-3

Buku ini merupakan kumpulan ceramah Gus Baha di berbagai acara. Buku ini terbagi atas 9 bagian, yaitu

  • Bagian 1 : Beragama Bahagia

Agama adalah sumber kebahagiaan yang berarti orang-orang yang beragama harusnya menjadi orang yang super bahagia. Manusia memang sangat mungkin membuat kesalahan atau melakukan dosa tetapi Tuhan adalah Maha Pengampun dan Penyayang. Bagi Gus Baha manusia melakukan dosa adalah hal wajar. Tinggal minta ampun pada Tuhan lalu berusaha sebisa mungkin untuk tidak mengulangi. Gus Baha hanya meminta kita untuk waspada bukan malah ketakutan terhadap Tuhan. Tuhan itu Maha Asyik.

  • Bagian 2 : Bersyukurlah

Kata Gus Baha salah satu masalah terbesar kita adalah terbiasa melihat segala sesuatu dari sudut pandang materialistis saja. Bgai Gus Baha nikmat Allah ada banyak jauh lebih banyak daripada jumlah kemaksiatan. Kita hanya perlu melihat nikmat ini dari sisi yang berbeda yakni dengan tidak terbentur pada wujud kebendaannya saja.

  • Bagian 3 : Tentang Perempuan

Menurut Gus Baha, memahami perempuan seringkali dianggap sebagai salah satu hal yang paling membingungkan terutama bagi laki-laki. Padahal kenyataannya perempuan tidak serumit yang dibayangkan. Perempuan sekeras apapun memiliki watak yang khas yakni ingin disayangi dan dikasihi.

  • Bagian 4 : Bahagia Berumah Tangga

Dalam biduk rumah tangga agama telah mengatur tugas dan kewajiban baik suami maupun istri. Jika istri di arahkan untuk taat pada suami dan menjadi madrasah untuk anak-anak maka tugas suami adalah menjadi imam. Gus Baha mengingatkan bahwa orang tua harus terus berusaha agar menjadi orang yang paling dekat dengan anak, caranya adalah dengan selalu menunjukkan bahwa mereka adalah prioritas utama orang tua.

Dalam hal mendidik anak, Gus Baha punya pesan khusus terutama terkait tanggung jawab orang tua yang bukan saja akan di tagih di dunia tetapi juga di akhirat nantinya. Tentang ini Gus Baha mewanti-wanti agar jangan sampai bersikap kasa terhadap anak.

  • Bagian 5 : Tantangan Beragama

Gus Baha kerap menyampaikan bahwa agama bukan saja perlu dipelajari tetapi juga diresapi dan dijadikan dasar dalam berkehidupan sehari-hari. Bagi beliau salah satu tantangan seruis beragama adalah munculnya orang-orang yang hanya menguasai agama dari sisi teori mereka bisa jadi adalah orang-orang yang shalatnya rajin beberapa bahkan hafal Al-Qur’an tetapi sikap hidupnya sehari-hari tidak mencerminkan semangat islam sama sekali. Orang-orang yang hanya pandai berteori ini umumnya mempraktikkan agama dengan cara yang berlebih-lebihan sebab ajaran agama hanya di pelajari untuk memupuk gengsi bukan untuk menentramkan hati. Menurut analisis Gus Baha pangkal dari semua sikap berlebihan dalam beragama ini adalah ngaji tanpa guru.

  • Bagian 6 : Jihad, Hijrah dan Sunah

Jihad itu berjuang, jihad dimaknai perang sejak ada orang ekstremis. Adanya jihad tidak ada hubungannya dengan perang. Jihad itu maknanya berjuang. Arti dasar terma ‘jihad’ adalah bersusah payah karenanya segala hal yang mengandung susah payah dapat dimaknai sebagai jihad, tidak harus perang. Malah bisa jadi perang yang dilakukan justru tak ada kaitannya dengan jihad.

Hijrah secara sederhana memiliki makna meninggalkan larangan Allah. Karenanya hijrah tidak hanya dilakukan dengan pakaian tertutup, hijab panjang celana di atas mata kaki, jubah, dsb. Tentu tidak salah mengubah penampilan tetapi pakaian tersebut bukanlah standar kesalehan. Sama sekali bukan. Gus Baha malah mewanti-wanti agar tidak membatasi makna hijrah pada jenis pakaian yang dikenakan. Kalau kita menganggap mengenakan pakaian tertentu itu sunah maka secara otomatis kita akan menganggap bahwa mengenakan pakaian yang lain tidak sunah bahkan menyalahi aturan. Pesan Gus Baha kalau memang belum mampu menjalankan sunah rasul secara menyeluruh tak usahlah memamerkan sunah-sunah ringan yang kita lakukan.

Hidup tidak usah dibuat sulit, tidak usah ruwet. Asal tidak maksiat bisa menjadi pribadi yang menyenangkan dan bermanfaat bagi banyak orang serta tidak mengusik hidup orang lain itu sudah cukup

Gus Baha

selamat membaca!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *