(Catatan) Buku Anak Juga Manusia #3

Melanjutkan catatan dari buku yang saya baca karangan Angga Setyawan (Anak Juga Manusia). Kali ini catatan ketiga yang saya buat. Semoga memberikan manfaat untuk para orang tua dan para calon orang tua. Selamat membaca!

Anak-anak itu unik,

mereka seperti beraneka ragam

bunga keindahan di taman kehidupan.

Ada yang berwarna hijau, merah, kuning, biru, ungu dan sebagainya

dengan beraneka ragam aroma wanginya.

Bunga manakah yang paling indah?

Semuanya indah, saling melengkapi,

dan membuat taman kehidupan berwarna-warni.

Seperti itulah seharusnya kita

melihat anak-anak, melihat kelebihan,

melihat uniknya, melihat hebatnya,

dan melihat lucunya.

Karena kita ingin mereka

menjadi yang terbaik,

kita perlu belajar melihat

yang terbaik dari diri mereka

@anakjugamanusia

K. Ibu Terbaik untuk Anak

Fokuskan pada proses belajar anak

Hasil bukanlah hal paling penting

Beri penghargaan pada prosesnya

Anak lebih suka jika kita menghargai kerja kerasnya

Penghargaan yang terbesar untuk sebagian besar anak adalah proses pembelajaran itu sendiri dan diperkuat dengan pujian yang tulus dari orangtua

L. Kemampuan Otak Manusia

Manusia memiliki tiga kemampuan dasar, yaitu :

  • Kemampuan berpikir/nalar
  • Kemampuan kreatif
  • Kemampuan menghafal

Sayangnya, saat sekolah yang sering kali diasah pada anak-anak adalah kemampuan menghafalnya. Sulit sekali mengubah sistem yang sudah seperti ini. Namun, kita selalu punya kesempatan. Kita bisa memulainya dalam keluarga. Beri ruang bagi anak untuk berpikir dan kreatif. Hargai setiap pendapat anak, hargai idenya. Beri apresiasi pada karya-karya anak, apa pun itu.

Jangan justru menghambat kemampuan berpikir dan kreatif anak yang sangat mereka butuhkan dengan sikap-sikap kita. Sikap sering meremehkan ide anak, pendapat dan karya anak akan membuat kemampuan tersebut tumpul.

Beri kesempatan anak untuk mencoba berbagai hal. Kita bisa melatih anak, saat ia mencoba sesuatu terutama hal baru, hal utama yang kita lihat adalah soal keamanan. Selama aman, silakan anak lakukan. Dampingi saja, bantu ia untuk memulai, mencoba dan menuntaskan agar ia terus berlatih untuk berpikir dan bertindak kreatif. Semakin terasah kemampuan berpikir dan kreatif anak, semakin anak dapat menyelesaikan persoalan-persoalan yang kelak ia hadapi.

Anak butuh dimengerti, anak juga suka didengarkan. Mendengarkan bukan urusan telinga tetapi urusan hati. Sediakanlah hati kita.

@anakjugamanusia

Banyak orangtua bingung karena sulit berkomunikasi dengan anak-anaknya. Orangtua ini tidak sadar bahwa selama ini mereka membangun benteng, bukan jembatan antar hati.

@anakjugamanusia

Orangtua yang berhasil membangun komunikasi dengan anak adalah yang lebih banyak mendengarkan bukan berbicara tidak ada yang suka berkomunikasi dengan orang bawel.

@anakjugamanusia

Jika kita tidak melatih diri untuk terbiasa mendengarkan sejak anak-anak masih kecil maka akan lebih sulit saat mereka sudah besar.

@anakjugamanusia

M. Komunikasi Bukan Hanya Penting Tetapi Adalah Kunci

Komunikasi merupakan kunci bagi hati seorang anak untuk tumbuh dalam perasaan disayangi sehingga ia bisa bercerita apa pun kepada kita. Dalam masyarakat kita, banyak orangtua yang berkomunikasi ke anaknya, hanya pada saat tertentu saja, misalnya dalam kondisi berikut :

  • Saat marah-marah
  • Saat menyusui ini itu
  • Saat mengkritik

Tingkatan komunikasi level tinggi itu cukuplah sederhana yaitu menjadi pendengar setia. Terkadang, orangtua cenderung ingin tegas saat berkomunikasi dengan anak. Sayangnya, tegas ini diartikan sebagai keras. Anak mengartikan keras sebagai tidak asyik. Tegas yang baik adalah lembut tetapi konsisten itu adalah bentuk tegas yang aman bagi anak-anak.

Orangtua adalah guru utama di awal-awal kehidupan anak. Namun, saat anak beranjak remaja, orangtua harus mulai memposisikan diri menjadi teman. Di fase ini, anak lebih suka dekat dengan teman-temannya karena dinilai lebih asyik dan gaul. Jika kita tidak dapat memposisikan diri sebagai teman, anak menganggap kita tidak asyik untuk diajak gaul. Istilahnya

Biarkanlah mereka merasa kita adalah teman bahkan sahabatnya yang bisa menjadi tempat curhat yang asyik setiap saat. Meski kadang kita lelah itu lebih baik daripada kita terlambat mengenal mereka, hanya karena melewatkan diri kita sebagai tempat curhatnya anak-anak. Adalah wajar jika sebagai orangtua tingkat kehidupan kita perlu di level bijaksana terutama dalam interaksi kita kepada anak-anak.

Salah satu tipsnya adalah kita perlu memiliki fondasi (Fokuskan Pada Solusi). Fondasi memiliki dua pilar utama, yaitu :

  • Kemauan untuk terus belajar yaitu tetang dunia anak
  • Mau mendengarkan dan memahami anak-anak kita

Anak-anak sekarang berada di ruang dan waktu yang berbeda dengan kita dulu. Namun, jika fondasi itu kuat, semuanya akan jauh lebih mudah.

Semua anak terlahir dengan keyakinan belajar itu asyik karena bermain tetapi kita singkirkan keasyikan itu dengan menyuruhnya duduk diam di depan meja.

@anakjugamanusia

N. Si Genius itu Ada di Rumah Kita

Saat lahir, manusia dianugerahi sesuatu yang luar biasa yang bernama ‘otak’. Otak manusia terdiri dari sel-sel yang banyak sekali. Ada sel aktif yang terus berkembang dan ada sel pendukungnya. Jika dijumlah, sel-sel otak ini ada sekitar 1 triliun. Inilah mengapa anak-anak itu luar biasa hebatnya. Berarti anak kita dapat setara dengan orang-orang sukses, seperti Thomas Alva Edison, BJ Habibie.

Saat ini dirumah kita ada seorang genius yang suatu saat nanti akan memainkan perannya bagi kehidupan ini. Siapa sangka anak-anak kita bisa belajar menjadi atau bahkan lebih hebat dari mereka kelak.

Ada yang tahu, definisi genius itu apa?

Genius adalah seseorang yang memiliki kemampuan diri dan membawa dirinya atau mendorong dirinya untuk mencapai batas tertinggi dari kemampuannya tersebut.

Hidup ini terlalu singkat jika hanya fokus kepada kelemahan anak-anak kita. Bantulah mereka untuk mendorong kemampuan mereka. Banyak sekali orangtua yang menjalankan perannya dengan penuh ambisi. Anak harus bisa ini/itu, harus mencapai ini/itu, harus menjadi ini/itu. INGAT! kehidupan yang dijalani anak adalah soal diri anak bukan soal ambisi kita. Kita hanya cukup menyediakan diri dan hati membantu anak untuk menemukan apa yang mereka sukai untuk dijalani dengan potensi yang mereka miliki.

Hal yang dibutuhkan anak bukanlah kita selalu menyelesaikan masalah untuknya. Namun, mendampingi anak untuk menyelesaikan masalahnya sendiri.

@anakjugamanusia

Penting bagi anak sejak kecil belajar menyelesaikan masalahnya sendiri karena tidak mungkin kita ada untuk anak di sepanjang jalan hidupnya.

@anakjugamanusia

O. Kemampuan Menyelesaikan Masalah

Dalam kehidupan kita terutama di lingkungan sekitar entah itu keluarga, tetangga atau di tempat kerja, kita seringkali menemui berbagai macam persoalan atau masalah. Masalahnya pun sangat beragam dan memiliki tingkat yang berbeda-beda. Dari berbagai macam masalah tersebut, kita dapat melihat berbagai respons dari orang-orang sekitar saat menghadapi masalah. Ada yang menghindar, ada yang pura-pura tidak tahu, ada yang pasrah saja, ada yang justru menyalahkan orang lain atau ada yang mengambil tanggung jawab serta berusaha dengan sabar dan gigih untuk menyelesaikan masalah tersebut.

Bagaimana dengan anak-anak kita? akan seperti apakah kelak cara mereka dalam menyelesaikan masalah? Tentu kita ingin mereka mengambil tanggung jawab dan berusaha untuk menyelesaikan masalah tetapi bagaimana cara mengajarkannya, ya?

Anak-anak bukanlah orang dewasa berukuran mini yang tidak boleh melakukan kesalahan serta harus selalu benar dan rapi dalam segala hal. Mereka masih berproses untuk belajar terbiasa hingga akhirnya bisa. Bila kita berpikir anak tidak boleh melakukan kesalahan atau bermasalah sebaiknya kita juga berpikir bahwa sanggupkah kita yang sudah dewasa ini sama sekali tidak boleh melakukan kesalahan atau bermasalah dalam hidup, terutama di hadapan anak?

Kita ini bukan manusia sempurna tanpa kesalahan, bukannya tidak boleh salah tetapi apa tanggung jawab kita saat berbuat salah dan menyelesaikan masalah yang timbul. Teladan seperti itulah yang perlu kita contohkan ke anak. Saat kita menjadi orang tua, sudah seharusnya kita mencapai level bijaksana dalam hidup. Memang bisa saja ita ikut-ikutan atau malah marah-marah ke anak karena gregetan melihatnya mendapatkan masalah. Namun, menahan diri kita tetap di belakang dan mendorong mereka untuk menyelesaikan masalahnya sendiri itu jauh lebih mereka butuhkan. Jika kita fokus membantu mereka untuk menemukan solusi, mereka akan terlatih untuk itu. Sebaliknya, jika kita terus menerus ikut campur dalam masalah yang anak hadapi, malah akan menghambat anak untuk belajar menyelesaikan masalah.

Pilihan ada di tangan kita!

Hanya karena hal-hal sepele kita sering jadi tidak sabaran pada anak. Padahal anak begitu sabar menunggu kita yang tak kunjung menjadi orangtua yang sabar.

@anakjugamanusia

salam hangat,

FHZ

One thought on “(Catatan) Buku Anak Juga Manusia #3

  1. At this time I amm going to do my breakfast, once having my breakfast coming again to read additional news. Caitrin Mitchael Maryn

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *