Pagi ini adalah pengalaman pertama saya naik pesawat Garuda Indonesia di tahun 2022 melalui Asrama Haji Donohudan. Kami naik Garuda GA-6137 dari Bandara Adi Soemarmo (SOC) ke Jeddah (JED) pukul 03.40 WIB.

Check-in Garuda dilakukan 3 jam sebelum keberangkatan. Untuk boarding pass sudah dicetakkan oleh pihak maskapai dan langsung ditempelkan di paspor masing-masing penumpang. Check-in dan drop bagasi Garuda berada di Embarkasi Donohudan (sepertinya ada aturan baru). Sambil menunggu, kita bisa duduk di kursi yang sudah disediakan sesuai dengan rombongan. Bisa juga ke toilet sebelum naik pesawat.

Satu jam sebelum terbang, kami dipanggil untuk naik bis untuk diantar ke Bandara dan langsung masuk ke pesawat.

Interior pesawat kelihatan cukup tua tetapi sudah ada skylightnya. Bersih terawat. Disediakan selimut dan bantal. Bersih wangi. Setelah 1 jam terbang dibagikan sarapan berupa nasi ayam teriyaki/nasi ikan (penumpang bisa pilih) lengkap dengan kerupuk dan puding. Ada pilihan minuman teh, susu, jus (jambu, mangga). Cukup nikmat.
Untuk masalah ukuran Garuda memang lebih besar dibandingkan pesawat seperti Lion Air, Batik Air, Sriwijaya Air. Hal inilah yang membuat saya sedikit takjub ketika melihat Garuda terparkir (sebelumnya saya lebih sering naik pesawat ukuran kecil).

Alhamdulilah, meski keuangan Garuda Indonesia sedang sulit, bertahun-tahun merugi, mereka tetap menjaga kualitas layanan.
Selama naik Pesawat Garuda, ada hal-hal yang saya temui :
- Selama perjalanan ke Jeddah kami transit 1 kali di Bandara Kualanamu Medan untuk maintenance (total perjalanan ke Jeddah selama 10 jam).
- Musik pengiring ‘Rayuan Pulau Kelapa‘ dengan konduktor Addie MS.
- Kru darat dadah-dadah (say good bye) waktu pesawat menuju landasan pacu.
- Alat makannya dari stainless steel dan tipis.
- Tidak ada majalah/bacaan yang disediakan.
- Tidak ada tontonan film (sepertinya TVnya diambil). Jadi agak bosan selama perjalanan.
Semoga kembali pulih, karena bagaimanapun Garuda membawa nama Indonesia.
“Pulih Lebih Cepat, Bangkit Lebih Kuat”


