“Ada yang lebih menyakitkan daripada dikhianati orang lain: mengkhianati diri sendiri.”
Kalimat itu mungkin menjadi benang merah yang membungkus seluruh esensi buku Alvi Syahrin. Sorry, My Younger Self, I Can’t Make You Happy bukan sekadar memoar atau kumpulan keluh kesah—melainkan surat pengakuan tulus dari seorang dewasa kepada versi dirinya yang paling rapuh di masa lalu. Dalam buku ini, Alvi Syahrin tidak hanya membongkar luka lama, tetapi juga menjahitnya kembali dengan benang-benang harapan yang sering kali luput kita lihat.
Sorry, My Younger Self, I Can’t Make You Happy
Penulis : Alvi Syahrin
Terbit : Desember, 2024
Penerbit : Alvi Ardhi Publishing
ISBN : 978-623-97002-5-6

Surat yang Tak Pernah Terkirim, tapi Selalu Terbaca
Alvi menggambarkan dirinya sebagai seorang “penulis surat yang terlambat”. Melalui narasi yang intim dan puitis, ia seolah duduk berhadapan dengan younger self-nya: bocah perempuan yang dulu percaya bahwa menjadi dewasa adalah janji kebahagiaan. Tapi di sini, Alvi justru meminta maaf. “Maaf, aku tak bisa menjadikan hidupmu seperti yang kau impikan,” tulisnya. Ia mengakui kegagalannya memenuhi ekspektasi diri, mengurai rasa bersalah, dan menerangi sudut-sudut kelam yang selama ini dipendam.
Buku ini dibangun dari fragmen-fragmen memori yang terasa seperti kaca pecah: tajam, namun indah saat disinari cahaya. Mulai dari kenangan masa kecil yang terasa asing, pergulatan dengan rasa tidak cukup, hingga momen-momen kecil yang justru menjadi titik balik penyembuhan. Alvi tidak menggurui, tapi membimbing pembaca untuk menyentuh luka mereka sendiri dengan lembut, sambil berbisik: “Kau tidak sendirian.”
Mengurai Luka: Ketika Masa Lalu Bukan Musuh
Yang menarik dari buku ini adalah cara Alvi menolak narasi toxic positivity yang kerap memaksa kita “move on” tanpa benar-benar memahami rasa sakit. Sebaliknya, ia mengajak kita berdialog dengan masa lalu. Dalam satu bab, ia menulis:
“Aku tak akan lagi menyembunyikanmu di lemari tua yang berdebu. Mari kita duduk, minum teh, dan bicara tentang mengapa kau masih sering membuatku menangis di tengah malam.”
Di sini, Alvi tidak hanya berbicara pada dirinya sendiri, tapi juga pada setiap pembaca yang mungkin masih menyimpan dendam pada versi diri yang “kurang cukup”. Ia mengingatkan kita bahwa luka bukanlah aib, melainkan bukti bahwa kita pernah berjuang.

Merajut Kembali Harapan: Sebuah Proses, Bukan Destinasi
Jika separuh pertama buku terasa seperti penyadaran yang menusuk, separuh berikutnya adalah tarian perlahan menuju penerimaan. Alvi tidak menjanjikan akhir yang manis, tapi ia menunjukkan cara menemukan cahaya dalam kegelapan:
- Memaafkan diri sendiri sebagai bentuk keberanian, bukan kelemahan.
- Mengubah sudut pandang terhadap kegagalan: dari bukti ketidakmampuan menjadi catatan pertumbuhan.
- Menemukan bahagia dalam hal-hal yang tak terduga, seperti keheningan pagi atau secangkir kopi yang sudah dingin.
Dengan gaya bahasa yang metaforis namun mudah dicerna, Alvi seolah membangun jembatan antara keputusasaan dan harapan. Ia menulis:
Bahagia itu seperti pelangi—kita tak bisa mengejarnya, tapi bisa menikmatinya saat ia muncul setelah hujan.”

Mengapa Buku Ini Layak Dibaca?
- Untuk yang merasa “tertinggal”: Buku ini adalah teman yang memahami, bukan menghakimi.
- Untuk pencinta kata-kata yang menyembuh: Setiap halaman dihiasi kalimat-kalimat puitis yang layak dijadikan mantra harian.
- Untuk siapa pun yang ingin berdamai dengan masa lalu: Alvi membuktikan bahwa berbicara pada diri sendiri bukanlah kegilaan, melainkan bentuk kasih sayang.
Sebuah Surat yang Menjadi Cermin
Sorry, My Younger Self, I Can’t Make You Happy adalah cermin retak yang justru memperlihatkan keindahan dalam ketidaksempurnaan. Buku ini tidak menjawab semua pertanyaan hidup, tapi mengajari kita cara bertanya dengan lebih baik. Seperti yang Alvi katakan:
“Mungkin kita tak perlu menjadi bahagia seperti yang dunia definisikan. Cukup menjadi utuh, dengan semua retakan yang membuat kita tetap bernapas.”
Jika siap untuk berjumpa dengan masa lalu tanpa lari, buku ini adalah sahabat yang tepat.



