Wonder karya R.J. Palacio bukan sekadar novel anak-anak atau remaja. Ini adalah cermin yang dengan jujur memantulkan bagaimana manusia sering kali terjebak dalam penilaian berdasarkan tampilan fisik, tetapi juga menunjukkan bahwa kebaikan sejati bisa menjadi cahaya yang mengubah segalanya. Novel ini mengisahkan August Pullman, anak lelaki berusia 10 tahun dengan kelainan genetik yang membuat wajahnya terlihat berbeda. Namun, di balik perjalanannya menghadapi bullying, ketakutan, dan rasa tidak percaya diri, Palacio menyelipkan pesan abadi: kita selalu punya pilihan untuk menjadi baik, bahkan ketika dunia tidak baik kepada kita.
Wonder
Penulis : R.J. Palacio
Penerjemah : Harisa Permatasari
Terbit : September, 2012
Penerbit : Penerbit Atria
ISBN : 978-979-024-508-2
August “Auggie” Pullman adalah anak biasa yang menyukai Star Wars, bermain game, dan bercanda dengan keluarganya. Namun, sejak lahir, ia hidup dengan sindrom Treacher Collins yang membuat wajahnya mengalami kelainan bentuk. Setelah selama ini bersekolah di rumah, Auggie memutuskan untuk masuk ke sekolah formal di kelas 5 SD. Di sana, ia bertemu dengan teman-teman yang reaksinya beragam: ada yang memandangnya dengan jijik, ada yang berusaha bersikap baik, dan ada yang diam-diam terpesona oleh kecerdasan serta selera humornya. Melalui sudut pandang Auggie, keluarga, dan teman-temannya, Palacio membawa pembaca menyelami kompleksitas perasaan manusia—mulai dari rasa malu, kesepian, hingga kekuatan persahabatan dan pengampunan.
Mengapa “Memilih Kebaikan” Menjadi Inti Cerita?
Judul ulasan ini sengaja mengangkat frasa “bukan sekadar tampilan” karena inilah pesan paling kuat yang terngiang dari Wonder. Auggie kerap dihadapkan pada situasi di mana orang-orang—bahkan orang dewasa—langsung menarik napas atau berpaling saat melihatnya. Namun, Palacio tidak hanya fokus pada penderitaan Auggie. Ia justru menunjukkan bahwa setiap karakter dalam cerita ini punya kesempatan untuk memilih: tetap terbelenggu prasangka atau melangkah dengan empati.
Contohnya:
- Jack Will, teman sekelas Auggie, awalnya berteman karena perintah orang tua. Namun, ia akhirnya menyadari bahwa Auggie adalah sosok yang lucu dan setia.
- Via, kakak Auggie, belajar menerima bahwa hidupnya tidak selalu harus berkisar pada adiknya, tetapi juga menemukan keberanian untuk memprioritaskan diri sendiri tanpa merasa bersalah.
- Mr. Browne, guru bahasa Inggris, mengajarkan “prasept” bulanan seperti “When given the choice between being right or being kind, choose kind.” Kalimat ini menjadi benang merah seluruh cerita.

Kekuatan Buku Ini:
- Narasi Multisudut Pandang: Palacio tidak hanya menyuarakan Auggie, tetapi juga orang-orang di sekitarnya. Teknik ini membuat pembaca memahami bahwa setiap orang punya pergulatan batinnya sendiri, bahkan mereka yang terlihat “sempurna”.
- Keseimbangan Emosi: Novel ini tidak terjebak dalam melodrama. Ada adegan mengharukan seperti saat Auggie mendengar ibunya menyebutnya “keajaiban”, tapi juga momen jenaka seperti obrolannya dengan sahabatnya, Summer.
- Relevansi Universal: Meski tokoh utamanya anak-anak, konflik tentang penerimaan diri, tekanan sosial, dan keluarga tetap menyentuh pembaca dewasa.
Mengapa Pesan “Kebaikan” di Buku Ini Begitu Berdampak?
Di era media sosial yang sering kali mengagungkan penampilan dan kesempurnaan, Wonder mengingatkan kita bahwa kebaikan adalah bahasa universal yang bisa menyembuhkan luka. Auggie tidak membutuhkan belas kasihan—ia hanya ingin diperlakukan seperti manusia biasa. Pesan ini relevan untuk siapa pun, terutama di dunia yang semakin individualistis.
Wonder cocok untuk pembaca usia 12+ hingga dewasa. Jika mencari cerita yang menggugah hati tanpa menggurui, buku ini layak masuk daftar bacaan.
Kebaikan itu seperti salju—keindahannya menyelimuti segala sesuatu yang ada di bawahnya
Bacalah Wonder—lalu coba tanyakan pada diri sendiri: “Sudahkah saya memilih kebaikan hari ini?



