(Catatan) Buku Anak Juga Manusia #4

Catatan terakhir dari buku Anak Juga Manusia, semoga memberikan banyak manfaat untuk kita para orang tua dan calon orang tua dalam mendidik anak. Selamat Membaca!

P. Cara Anak Menerima Cinta

Ada lima cara seorang anak menerima cinta, yaitu :

Pertama, waktu yang berkualitas. Nah sayangnya, banyak orangtua yang kebetulan sangat sibuk, selalu berkata, ‘ah yang penting bukan kuantitas tetapi kualitas.’ Bagaimana bisa mendapatkanwaktu yang berkualitas tanpa adanya kuantitas? Karena dalam sepanjang waktu perkembangan anak, ada momen-momen yang butuh kehadiran kita secara fisik dan itu tidak berulang lagi.

Jika kita bisa memberikan kuantitas sertai pula dengan kualitas. Namun, jika kita tidak bisa memberi kuantitas pastikan kita benar-benar memberikan waktu yang berkualitas dengan anak saat bertemu dengannya. Saat kita pulang kerja sore atau malam dan masih sempat bertemu anak, manfaatkan momen itu. Jangan isi dengan hal-hal yang membuat anak malas bertemu kita karena biasanya banyak orangtua yang saat pulang hanya marah-marah atau menginterogasi anak perihal sekolahnya. Jika kita tidak memanfaatkan waktu dengan anak menjadi berkualitas, lalu bagaimana kita bisa mengenal anak dengan baik? Bagaimana anak bisa mengenal kita dengan baik?

Kedua, pujian dan dukungan dengan kata-kata positif. Namun, sayangnya pujian ini adalah barang langka dalam banyak keluarga. Padahal, pujian itu penting untuk anak-anak membentuk pribadi yang positif dan penuh percaya diri. Jika kita memuji dengan spesifik pada tindakan positif anak-anak, mereka cenderung untuk mengulangi tindakan positif tersebut.

Ketiga, sentuhan fisik. Sentuhan fisik ini sungguh luar biasa, mendamaikan hati dan memberikan motivasi. Sentuhan fisik pada anak-anak dapat berupa pelukan, belaian, ciuman atau juga elusan.

Keempat, pelayanan. Pelayanan yang dimaksud bukanlah menjadi pelayan anak-anak sehingga mereka menjadi seperti raja. Pelayanan yang dimaksud adalah membantu mereka dengan posisi kita sebagai anggota tim dalam setiap kegiatan, misalnya sebagai teman diskusi anak untuk mencari solusi ketika mereka ada masalah.

Kelima, pemberian hadiah dengan tulus. Yang dimaksud bukanlah sesuatu yang mahal tetapi hal-hal kecil yang kita berikan, untuk menunjukkan bahwa kita ingat mereka saat bepergian atau sedang ke luar kota misalnya.

Membuat anak-anak tumbuh dalam perasaan dicintai sangatlah penting. Hal itu seperti memberi bahan bakar bagi mereka untuk mengarungi kehidupan.

Mungkin hanya ada dua tipe orang tua, yakni yang mau belajar dan tidak mau belajar. Yang belajar akan menikmati mendidika anak, yang tidak mau belajar akan selalu bingung.

@anakjugamanusia

Q. Teknik Membandingkan Yang Baik

Langkah-langkah dalam membandingkan yang baik adalah,

  1. Saat anak anda melalui hal yang baik dan positif sekecil apa pun, berikan apresiasi, meskipun apresiasi sederhana.
  2. Saat anak mau tidur di malam hari, ulangi lagi dengan jelas dan detail perbuatan baik yang telah ia lakukan seharian di sertai dengan ucapan terimakasih.

Membandingkan yang baik adalah membandingkan anak dengan dirinya sendiri saat pernah berperilaku baik bukan membandingkan dengan orang lain yang malah bisa semkain memperburuk perilaku anak. Sehingga anak tidak merasa terintimidasi.

Tuhan menitipkan anak yang sempurna

pada kita, kitalah yang lalu melabeli anak

dengan sebutan bodoh,

kitalah yang melabeli mereka

dengan sebutan nakal.

Percayalah, tidak ada produk Tuhan yang gagal,

kitalah yang perlu berusahan memahami mereka.

Bukan anak kita yang harus diganti,

cara-cara kita memperlakukan anaklah

yang perlu diperbaiki

@anakjugamanusia

Kita setuju bahwa anak itu titipan Tuhan maka sudah sepatutnya kita memperlakukan seperti yang Tuhan inginkan bukan dengan kekerasan baik fisik maupun verbal.

@anakjugamanusia

R. Membangun Kedekatan Dengan Anak Saat Liburan

Liburan adalah momen tepat untuk membangun kedekatan dengan anak-anak. Tujuan liburan dengan anak bukanlah hanya bersenang-senang semata. Namun, juga untuk membangun kedekatan dan kebahagiaan agar kitalah yang perama kali dicari oleh anak saat mereka butuh untuk menumpahkan rasa bimbang di hati.

Ada beberapa tips membangun kedekatan dengan anak saat liburan, yaitu

  1. Berusahalah untuk menjadi sahabat bagi anak-anak. Sahabat yang baik lebih sedikit berbicara dan lebih banyak mendengar. Jangan pernah memotong pembicaraan atau mengkritik. Tahanlah diri untuk memberinya nasihat. Akan ada saat yang tepat untuk memberinya nasihat.
  2. Sebagai orang tua harus saling mengingatkan.
  3. Biarkan anak untuk menumpahkan semua isi hatinya kepada kita (orang tua), walau itu berjam-jam dan melelahkan. Jika anak sudah puas, baru kita bisa masuk untuk memberinya nasihat.
  4. Saat memberikan nasihat, jangan frontal dan menyerang. Jika itu yang kita lakukan berulang kali dijamin anak akan malas curhat lagi dengan kita.
  5. Cara memberi nasihat pun perlu dengan baik, misalnya dengan menggunkaan pihak ketiga, misalnya ‘dulu tantemu punya masalah yang hampir mirip, begini ceritanya bla bla bla. Tantemu juga bilang ke mama, eh kamu jangan sampai kayak aku, ya, karena nanti kamu bisa begini/begitu. Sejak saat itu, mama selalu ingat kata-kata tantemu itu.Kalau untuk yang masalahmu, menurutmu bagaimana ya, sayang?’

Banyak orang tua yang marah karena nilai anak jelek dengan dalih demi kebaikan anak. Sebetulnya, orang tua itu gagal berdamai dengan diri sendiri karena malu pada orang tua yang lain.

@anakjugamanusia

S. Nilai Terbaik Untuk Anak

Mendidik anak-anak, bukan berarti mengajarkan kepada mereka sekumpulan ilmu pengetahuan semata. Utamanya, mendidik berarti mengajarkan kepada mereka kesanggupan untuk berjuang menghadapi tantangan kehidupannya.

Adalah anak-anak yang saat orang tuanya pulang ke rumah bukannya senang tetapi malah takut dan tegang. Mudah-mudahan itu tidak terjadi di rumah kita.

@anakjugamanusia

T. Sempurnakah Anak Anda ?

Seperti apakah kriterian anak yang sempurna? Kebanyakan orang tua akan mengataka anak yang sempurna adalah anak yang berprestasi, berIQ tinggi, memiliki fisik bagus, pintar dan sebagainya. Padahal kesempurnaan yang sejati bukanlah dari hasil yang kita peroleh melainkan dari proses yang mampu dan mau kita lewati sepanjang perjalanan hidup untuk mencapai sesuatu. Anak-anak sudah sempurna seperti apa adanya mereka. Sudah saatnya kita mengubah paradigma tentang anak yang sempurna. Anak yang mau berproses dan bekerja keraslah yang akan sampai pada tujuan hidupnya. Tugas kita adalah mensupport, mengajarkan kebaikan dan memberi contoh kepada mereka. Karena sempurna sudah melekat pada anak-anak melalui proses hidup yang mereka jalani.

salam hangat,

FHZ

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *