Siapa bilang belajar bahasa Indonesia itu kaku, membosankan, dan bikin ngantuk mirip jam pelajaran terakhir di sekolah? Kalau kamu masih punya mindset seperti itu, berarti kamu belum kenalan dengan buku Recehan Bahasa (Receh tak Selalu Remeh) #2 karya Ivan Lanin dan Harrits Rizqi.
Jujur saja, berhadapan dengan aturan tata bahasa baku itu kadang bikin pusing. Sehari-harinya, saat harus memperbarui data kinerja kesehatan, mengelola konten website, sampai menyusun draf dokumen resmi dan pengumuman jadwal imunisasi untuk puskesmas tempat saya bekerja, otak rasanya mau ngebul memastikan semuanya sesuai EBI (Ejaan Bahasa Indonesia). Belum lagi kalau setelah itu saya ingin menulis santai di blog ini, gaya bahasanya kadang malah ikut-ikutan kaku seperti surat dinas!
Nah, di tengah kebingungan membedakan kata baku dan tidak baku itulah, buku Recehan Bahasa #2 ini hadir bagaikan oase yang menyegarkan (sekaligus bikin ngakak).
Uda Ivan Lanin Mode “Ngelawak”
Kita semua tahu Ivan Lanin sering dijuluki “Polisi Bahasa” di jagat maya. Pembawaannya di media sosial selalu tenang, rapi, dan baku. Tapi di buku seri kedua Recehan Bahasa ini, aura super serius itu mendadak luntur. Bersama Harrits Rizqi, Uda Ivan berhasil mengemas aturan kebahasaan yang rumit menjadi lelucon receh bapak-bapak yang sukses bikin kita nyengir sendiri.
Buku ini sama sekali nggak akan mencekikmu dengan teori linguistik setebal kamus. Sebaliknya, halamannya dipenuhi dengan pelesetan kata, akronim nyeleneh, dan dialog singkat yang relate banget sama kehidupan sehari-hari. Istilahnya, kamu lagi dikuliahi bahasa Indonesia, tapi rasanya kayak lagi nongkrong santai di warkop sambil baca tweet lucu.

Receh, tapi Daging Semua!
Sesuai sub-judulnya, Receh tak Selalu Remeh. Di balik setiap jokes yang dilontarkan, selalu ada pencerahan tentang padanan kata yang tepat atau cara menggunakan tanda baca yang benar.
Penjelasannya bite-sized, sepotong-sepotong, jadi gampang banget dicerna kalau kamu cuma punya waktu baca 10 menit sebelum tidur atau pas lagi nunggu kendaraan. Beberapa kutipan dan materi yang sukses bikin saya ketawa (sekaligus manggut-manggut paham) di buku ini seperti:
Pelesetan Makna: Ada banyak banget pelesetan makna kata yang diplesetkan jadi curhatan patah hati atau keluh kesah pekerja kantoran. Bikin belajar kosakata baru jadi nggak kerasa terbebani.
Sensasi Membaca yang Beda dari Buku Nonfiksi Lainnya
Biasanya, buku tentang bahasa akan terasa mengintimidasi. Tapi Recehan Bahasa #2 ini sukses mendobrak stigma itu. Kalau kamu sebelumnya pernah membaca buku-buku pengembangan diri dengan bahasa santai, energi buku ini kurang lebih mirip.

Kesimpulan: Wajib Punya atau Skip Saja?
Sangat direkomendasikan! Buku ini wajib ada di meja kerjamu. Recehan Bahasa #2 adalah bukti nyata bahwa edukasi literasi bisa diselundupkan lewat komedi yang cerdas. Nggak cuma nambah ilmu buat nulis blog atau bikin caption medsos, buku ini juga ampuh banget buat naikin mood setelah seharian capek bekerja.
Jadi, sudah siap memperbaiki kualitas bahasamu sambil ketawa tipis-tipis? Jangan lupa beli buku yang original, ya! Kalau kamu punya rekomendasi buku nonfiksi santai favorit lainnya, coba drop judulnya di kolom komentar di bawah!



