Halo semuanya, selamat datang kembali di furidisini! Kalau biasanya kita sering baca tulisan dan esai-esai tajam nan kritis dari Mbak Kalis Mardiasih, kali ini ada yang istimewa banget. Beliau hadir menyapa kita lewat sebuah novel perdananya yang berjudul Makamkan Ibu di Samping Ayah.
Sejak pertama kali lihat kover depannya yang punya nuansa warna gelap dengan ilustrasi benda-benda kenangan masa lalu (seperti sepeda, seragam, dan kursi tua), aku udah feeling kalau buku ini bakal ngaduk-ngaduk emosi. Dan benar saja! Yuk, kita bedah novelnya!

Judul: Makamkan Ibu di Samping Ayah
Penulis: Kalis Mardiasih
Penerbit: Shira Media
Cetakan: Pertama, 2026
Tebal: viii + 142 halaman
ISBN: 978-623-8678-34-1
Sinopsis Singkat: Bukan Sekadar Tentang Memaafkan
Di bagian sampul belakang, ada satu kutipan yang langsung jleb banget di hati: “Barangkali yang paling sulit bukan memaafkan, tetapi menerima bahwa kita tidak pernah tahu seluruh kebenaran.”.
Novel ini bercerita tentang luka yang tak pernah benar-benar usai yang tersimpan di antara dua nisan. Saat kenangan tentang sosok seorang ayah yang dibenci mulai dihidupkan kembali, kebenaran-kebenaran lama justru perlahan runtuh. Tokoh-tokoh di dalamnya kemudian dihadapkan pada dua pilihan yang sama beratnya: terus mewarisi luka tersebut, atau berani memahaminya.
Apa yang Bikin Novel Ini Wajib Masuk TBR (To Be Read) Kamu?
1. Tema Keluarga yang Menguras Emosi
Novel ini ngebahas isu family trauma atau luka pengasuhan yang super relatable. Lewat sebuah surat manis (tapi perih) yang disisipkan di dalam bukunya, Mbak Kalis ngasih pesan: “Ikatan keluarga mustahil sempurna. Bagaimana pun, pasti sulit menciptakan kesempurnaan bagi tubuh dan jiwa yang punya kehendak diri mereka masing-masing.”. Ekspektasi kita tentang keluarga yang selalu ideal dan harmonis bakal diuji dan direkonstruksi ulang lewat cerita ini.
2. Penokohan yang Kuat Lewat Berbagai Sudut Pandang
Meski tebalnya cukup tipis dan bite-sized yaitu hanya 142 halaman, pembagian babnya terasa sangat intim. Kita akan diajak menyelami porsi cerita dari berbagai karakter. Ada Aji, Vikra yang kerap disebut misterius, hingga Lini—si bungsu yang punya beban berat untuk “memutus rantai” luka keluarganya. Ada juga sosok-sosok lain di sekitar mereka yang bikin dinamika ceritanya makin kaya.
3. Bahasa yang Hangat Sekaligus Menusuk
Gaya bahasa Kalis Mardiasih di sini ngajak kita ngerasain kerinduan dan rasa asing sekaligus. “Keluarga, adalah sebuah ikatan yang dinamai, untuk menjelaskan keterhubungan dan rasa aman seseorang dengan orang-orang terdekatnya,” tulis beliau dalam lembar sisipannya. Tapi sayangnya, hidup kadang menghadirkan “ketidaknyamanan paling rumit untuk banyak jiwa,” kan?.Â

Kesimpulan
Makamkan Ibu di Samping Ayah adalah bacaan wajib buat kamu yang lagi butuh teman untuk memvalidasi perasaan lelah, marah, namun tetap menyimpan rindu terhadap arti sebuah “rumah”. Ini bukan cuma sekadar narasi klise tentang memaafkan orang tua, tapi tentang menerima diri kita sendiri yang masih berantakan karena masa lalu.
Sangat direkomendasikan buat dibaca habis dalam sekali duduk sore-sore sambil dengerin playlist lagu sendu!
Gimana, kalian tertarik buat ikut ngerasain emosi di karya terbaru Kalis Mardiasih ini? Yuk, bagikan pendapat atau pengalaman kalian di kolom komentar, ya!



