Semesta terkadang memiliki cara yang unik—dan sedikit lucu—dalam mengabulkan keinginan kita. Jika ada yang bertanya bagaimana perjalananku belakangan ini, jawabannya adalah sebuah siklus yang membawaku kembali ke tempat di mana semuanya bermula. Sudah 7 bulan lamanya aku menghabiskan waktu bertugas di Pustu (Puskesmas Pembantu) sejak insiden fraktur yang mengubah drastis ritme kerjaku.
Ruang Tenang yang Memaksa Berhenti Sejenak
Sebelumnya, hari-hariku dihabiskan dalam hiruk-pikuk Puskesmas Induk dengan segala mobilitasnya. Namun, kondisi memaksaku menepi. Di Pustu, suasananya jauh berbeda. Kebetulan hanya ada aku dan ibu bidan desa yang bertugas. Jika beliau sedang ada jadwal Posyandu atau kegiatan di luar, otomatis aku menjaga Pustu ini sendirian.
Sepi? Tentu saja. Namun, di balik kesepian itu, ada ketenangan yang tanpa sadar telah lama kurindukan. Sebuah ruang tenang yang memungkinkanku bernapas sedikit lebih panjang di sela-sela masa pemulihan.
Saksi Bisu Sebuah Fase Pemulihan
Kalau bangunan Pustu ini bisa bercerita, ia mungkin menjadi saksi paling jujur dari fase perubahanku. Tempat ini melihatku datang dengan kaki yang masih dibalut gips tebal. Ia menemaniku saat gips itu akhirnya dilepas, menyaksikanku tertatih beradaptasi dengan dua buah crutch, lalu perlahan memberanikan diri bertumpu pada satu crutch saja.
Sebenarnya, sejak bulan kelima aku sudah mulai bisa melangkah bebas tanpa penyangga. Pustu ini merekam seluruh prosesku bertumbuh dan belajar memijak bumi lagi secara utuh. Tapi ya begitu, baru setelah memasuki bulan ketujuh ini aku akhirnya sempat duduk tenang dan benar-benar menuliskan semua isi kepala yang sudah menumpuk. Hahahaha.
Ditakdirkan di Pustu dan Membuka Ruang Ide
Satu hal yang membuatku tersenyum sendiri ketika memikirkan ini semua adalah sebuah ironi yang manis. Dulu, tempat pertamaku bekerja juga di Pustu. Setelah sekian lama bertugas di Puskesmas Induk, kini aku ditarik kembali ke Pustu. Sepertinya aku memang ditakdirkan untuk bekerja di Pustu saja ya? Hahahaha.
Tapi sejujurnya, ini ide yang sangat bagus. Setelah aku tidak lagi bertumpu pada crutch dan sudah bisa bergerak bebas ke mana-mana di Pustu, tempat ini bertransformasi. Di sinilah aku bisa mengeluarkan segala macam ide yang selama ini berputar di kepala. Aku punya ruang sendiri yang bisa aku olah dan kreasikan sesuka hati. Hahahaha.
Sudah sejak lama aku membatin dan merindukan ketenangan bekerja di sini. Sekarang, semesta benar-benar memberikannya secara penuh. Terkadang kita memang harus dipaksa berjalan lebih lambat, hanya untuk dikembalikan ke tempat di mana kita bisa menyembuhkan diri, menata ulang isi kepala, dan menemukan ruang bermain kita kembali.



