Beberapa waktu lalu, saya berkesempatan melakukan kunjungan lapangan ke salah satu Taman Kanak-Kanak (TK) di wilayah kerja Puskesmas tempat saya bertugas. Biasanya, kunjungan ke sekolah selalu menjadi momen yang menyenangkan. Melihat celoteh anak-anak, tawa mereka yang lepas, dan tingkah polah yang menggemaskan selalu berhasil menjadi mood booster di tengah rutinitas pekerjaan.
Namun, di kunjungan kali ini, ada satu pemandangan yang membuat langkah saya terhenti. Bahkan, bayangannya masih terus mengganjal di pikiran saya sampai hari ini.
Di tengah keramaian kelas, pandangan saya tertuju pada satu anak. Saat saya perhatikan lebih dekat, tampak jelas selaput merah pada mata anak tersebut—warnanya pekat seperti gumpalan darah yang menutupi sebagian bagian putih matanya. Dari kacamata saya sebagai petugas kesehatan, sekaligus insting seorang ibu, kondisi ini jelas bukan “mata merah biasa” dan sangat membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut ke dokter, bahkan ke dokter spesialis mata.
Jujur, hati saya langsung mencelos. Ada rasa kasihan yang begitu dalam saat menatapnya. Di dalam kepala saya berkecamuk satu pertanyaan besar: “Apakah orang tuanya di rumah tidak menyadari kondisi ini? Mengapa belum dibawa periksa ke dokter, atau minimal mampir ke Puskesmas terdekat?”
Tulisan ini sama sekali tidak bermaksud untuk menghakimi orang tua mana pun. Sebagai sesama ibu, saya paham betul bahwa mengurus rumah tangga dan membesarkan anak itu penuh dengan distraksi. Kadang, ketika melihat mata anak memerah tetapi anaknya masih aktif berlari-lari, tidak menangis, dan tidak mengeluh sakit, orang tua cenderung berpikir, “Ah, paling cuma kelilipan atau kecolok dikit pas main, nanti juga hilang sendiri.”
Padahal, mumpung anak masih kecil, setiap kejanggalan pada matanya harus segera dicari tahu penyebabnya agar penanganannya bisa dipercepat.
Mengapa Selaput Merah Seperti Darah di Mata Anak Tidak Boleh Disepelekan?
Bagian putih mata (sklera) yang tertutup bercak atau selaput merah segar seperti darah sering kali menandakan adanya pecah pembuluh darah halus di bawah selaput bening mata (dalam medis dikenal sebagai perdarahan subkonjungtiva), peradangan berat, atau pertumbuhan jaringan yang tidak normal.
Memang benar, sebagian kasus pembuluh darah mata yang pecah bisa terjadi karena hal sepele seperti anak mengucek mata terlalu keras atau batuk yang terlalu kuat. Namun, pada anak-anak, kondisi ini wajib diperiksa oleh tenaga medis untuk menyingkirkan kemungkinan yang lebih serius, seperti:
-
Trauma atau Cedera Tersembunyi: Anak usia TK sangat aktif. Bisa jadi matanya terkena benturan mainan, kuku teman, atau benda tumpul lainnya tanpa sepengetahuan orang tua. Pemeriksaan dokter diperlukan untuk memastikan tidak ada luka di bagian dalam bola mata atau kornea.
-
Iritasi dan Infeksi Berat: Adanya selaput yang menebal dan memerah bisa menjadi tanda infeksi atau peradangan kronis yang jika dibiarkan dapat mengganggu jaringan sehat di sekitarnya, bahkan menghalangi jalur penglihatan.
-
Gangguan Pembekuan Darah atau Kondisi Medis Lain: Jika bercak darah di mata muncul tiba-tiba tanpa sebab yang jelas dan sulit hilang, dokter perlu memastikan tidak ada masalah kesehatan lain pada tubuh si kecil.
Bahaya Sikap “Tunggu Sakit Dulu” dan Pengobatan Sendiri
Anak usia TK belum punya kosakata yang cukup untuk menjelaskan rasa mengganjal atau buram pada matanya. Selama mereka masih bisa melihat dengan satu mata lainnya yang sehat, mereka akan tetap bermain seperti biasa. Kitalah orang dewasa yang harus peka menangkap “alarm” dari perubahan fisik mereka.
Selain menunda ke dokter, hal lain yang sering membuat saya khawatir adalah kebiasaan orang tua yang langsung membelikan obat tetes mata di warung atau apotek tanpa resep dokter. Perlu diingat, tidak semua obat tetes mata aman untuk anak. Beberapa obat tetes mata dewasa mengandung bahan aktif (seperti steroid) yang jika diteteskan sembarangan pada mata anak justru bisa memicu komplikasi berbahaya hingga kebutaan.
Tanda-Tanda Mata Anak Harus Segera Dibawa Periksa
Jika Ibu atau Bapak menemukan bercak atau selaput merah pada mata anak, jangan tunda lagi untuk membawanya ke fasilitas kesehatan, terutama jika disertai tanda-tanda berikut:
-
Bercak merah tampak tebal, meluas, atau tidak kunjung memudar setelah berhari-hari.
-
Anak terlihat sering mengucek mata, berkedip berlebihan, atau silau saat melihat cahaya.
-
Keluar kotoran mata (belekan) yang banyak, berair terus-menerus, atau kelopak mata tampak bengkak.
-
Anak mulai mengeluh pusing, matanya terasa mengganjal, atau pandangannya kabur.
-
Ada riwayat mata anak terbentur atau tercolek benda sesuatu sebelumnya.
Secarik Surat Rujukan dan Harapan Kami di Puskesmas
Saat di TK kemarin, kami tentu tidak tinggal diam. Setelah melakukan pemeriksaan awal, tim kami langsung membuatkan surat pengantar rujukan internal dan menitipkannya kepada Ibu Guru di sekolah untuk disampaikan kepada orang tua anak tersebut. Surat itu bukan sekadar kertas formalitas, melainkan “tiket” bukti pengantar agar orang tuanya bisa langsung membawa si kecil ke Puskesmas untuk ditindaklanjuti dengan cepat.
Sebagai pengingat bagi para orang tua, jika suatu hari anak pulang sekolah membawa surat pengantar atau rujukan dari kegiatan skrining Puskesmas, jangan panik, tapi jangan pula diabaikan.
Sering kali yang membuat orang tua maju-mundur untuk memeriksakan anaknya adalah bayangan biaya dokter spesialis mata yang mahal atau prosedur rumah sakit yang rumit. Padahal, dengan membawa surat pengantar dari sekolah tersebut ke Puskesmas:
-
Petugas Puskesmas sudah mengetahui riwayat temuan saat skrining di sekolah sehingga alur layanan menjadi jauh lebih mudah.
-
Dokter Puskesmas akan memeriksa kondisi mata anak secara menyeluruh. Jika bisa ditangani di Puskesmas, obat yang diberikan dijamin aman dan sesuai dosis anak.
-
Jika memang membutuhkan penanganan dokter spesialis mata di rumah sakit, Puskesmas akan langsung membantu memproses rujukan berjenjang (termasuk dengan BPJS Kesehatan) sehingga orang tua tidak perlu pusing memikirkan biaya.
Di dalam hati, saya terus berdoa semoga surat rujukan yang kami titipkan lewat Ibu Guru kemarin benar-benar sampai ke tangan orang tuanya, dan mengetuk hati mereka untuk segera melangkahkan kaki ke Puskesmas.
Anak-anak adalah amanah yang belum bisa memperjuangkan hak kesehatannya sendiri. Mereka bergantung sepenuhnya pada kepekaan dan gerak cepat kita sebagai orang tua. Malam ini, saat si kecil sedang bercerita atau bersiap tidur, yuk coba tatap kedua matanya lekat-lekat. Pastikan jendela dunianya sehat, jernih, dan siap melihat masa depan yang cerah


