Sabar adalah salah satu ujian dari kita saat berhaji. Satu bulan lebih berada di negeri orang bersama 1 rombongan besar yang setiap hari bertemu tentu tidak mungkin tidak muncul masalah atau konflik.
a. Bersabar Dengan Anggota Keluarga
Pergi berdua dengan ibu ternyata tidak menyurutkan konflik di antara kami. Seringkali karena kelelahan terkadang saya marah-marah atas suatu hal yang berada di luar kuasa kami. Atau ketika saya menegur ibu agar tidak marah secara berlebihan kepada orang lain tetapi ujung-ujungnya saya yang dimarahi. Semua itu hanya bisa membuat saya mengelus dada dan membatin ingin segera pulang bertemu anak dan suami.
Banyak sekali gesekan-gesekan kecil yang seharusnya bisa dihindari tetapi terjadi begitu saja. Memang betul kata orang, bahwa di tanah suci sifat dan tabiat asli seseorang akan di perlihatkan dengan jelas. Yang jelas harus banyak sekali stok sabar.
b. Bersabar Dengan Teman
Saya sekamar dengan 4 orang lainnya termasuk ibu saya. Banyak sekali hal-hal kecil yang berpotensi menimbulkan konflik seperti tidak terkoordinasinya kegiatan setiap orang atau rombongan, jadwal pengambilan konsumi, mencuci atau menjemur baju dan lain-lain.
c. Bersabar Saat Wukuf di Arafah
Wukuf adalah inti dari ibadah haji. Wukuf sendiri berarti berdiam diri di Padang Arafah. Kegiatan jamaah selama wukuf adalah berdoa, beribadah, mendengarkan khotbah wukuf dan memohon ampun kepada Allah SWT.
Selama wukuf, saya tinggal di dalam tenda maktab di Arafah. Karena kami termasuk ke dalam haji reguler, mau tidak mau untuk kamar mandi, kami harus antri karena banyaknya jamaah yang ada. Sayangnya masih banyak jamaaah yang jorok yang membuang sampah tidak pada tempatnya, tisu, pembalut bekas pakai bertebaran di dalam bilik kamar mandi. Padahal, sudah tersedia kantong sampah di depan kamar mandi.
Bukankah Kebersihan Sebagian dari Iman?!
d. Bersabar Menahan Rindu
Nah, ini dia yang menurut saya cukup menguras emosi, yaitu menahan rindu terhadap anak dan suami di tanah air. Saat di tinggal kemarin anak saya yang paling besar berumur 2,5 tahun dan terkecil 1 tahun. Jadi, mau tidak mau setiap hari saya memantau anak saya via video call. Setiap hari, saya menghitung mundur waktu kepulangan dan menghibur diri bahwa sebentar lagi saya akan dapat bertemu dengan mereka.
Selama hampir 1 bulan di tanah suci, saya rindu dengan makanan indonesia seperti soto, bubur, siomay, batagor dan aneka jajanan lainnya. Di Makkah dan Madinah, makanan yang disajikan selalu daging, santan, minyak. Untung ada saus sambal, bon cabe, abon, sambal terasi (saya sengaja bawa dari Indonesia) lumayan mengobati kangen saya dengan masakan indonesia.
Nah itulah kira-kira pelajaran sabar yang saya alami selama ibadah haji. Semoga melalui tulisan ini dapat menjadi referensi dan pelajaran untuk saya khususnya dan teman-temannya untuk belajar sabar.
Share juga pengalaman teman-teman belajar kesabaran dong!


