Setelah lama menunda, akhirnya aku menyempatkan diri untuk menonton The Wheel of Time, adaptasi serial fantasi Amazon Prime yang diangkat dari novel legendaris Robert Jordan. Dan… ya ampun, kenapa aku tidak menonton ini lebih cepat? Ada rasa penyesalan yang menggelitik karena terlambat merasakan gemuruh pertarungan antara Cahaya dan Kegelapan, tapi di sisi lain, kebahagiaan bisa “menelan” dua musim sekaligus dalam sekali binge-watching.
The Wheel of Time
Genre : Action, Adventure, Fantasy
Based on : The Wheel of Time by Robert Jordan dan Brandon Sanderson
Starring : Rosamund Pike, Daniel Henney, Madeleine Madden, etc
Network : Amazon Prime Video

Season 1: Putaran Pertama yang Membuka Pintu Takdir
Season pertama The Wheel of Time (2021) ibarat gulungan kain yang perlahan dibentangkan. Kisah dimulai dari Emond’s Field, desa terpencil yang dihuni Rand al’Thor (Josha Stradowski), Egwene (Madeleine Madden), Perrin (Marcus Rutherford), Mat (Barney Harris), dan Nynaeve (Zoë Robins). Kedatangan Moiraine (Rosamund Pike), Aes Sedai misterius, mengubah segalanya: mereka adalah benang takdir yang bisa menyelamatkan atau menghancurkan dunia.
Di sini, dunia fantasi yang kaya mulai dibangun: channeling (penggunaan One Power), ancaman Trolloc, dan pertanyaan besar—siapakah Dragon Reborn yang ditakdirkan menghancurkan atau menyelamatkan dunia? Meski pacing terkadang terasa lambat, keindahan visual (khususnya efek weaves One Power) dan dinamika kelompok protagonis sukses membius. Adegan akhir di Eye of the World menjadi klimaks yang menggugah, meski meninggalkan banyak teka-teki—termasuk nasib Mat dan kebangkitan Forsaken.

Season 2: Badai Kedua yang Menggebrak dengan Kegelapan
Jika Season 1 adalah pengantar, Season 2 (2023) adalah badai yang menghantam tanpa ampun. Rand, yang kini menyadari identitasnya sebagai Dragon Reborn, berjuang melawan kegilaan yang mengintai. Moiraine kehilangan kekuatannya, sementara Nynaeve dan Egwene menghadapi ujian brutal di Menara Putih. Tak ketinggalan, Perrin bertemu dengan Aiel, dan Mat—kini diperankan oleh Dónal Finn—terlibat dalam permainan nasib yang ambigu.
Yang mencolok dari Season 2 adalah peningkatan skala konflik dan kedalaman karakter. Ancaman Forsaken (seperti Lanfear) memberi dimensi baru: musuh tak sekadar hitam-putih, tetapi penuh intrik. Adegan pertarungan di Falme, khususnya duel Rand vs. Turok, adalah maha karya sinematik yang memadukan aksi, emosi, dan CGI memukau. Di sisi lain, fokus pada trauma Nynaeve dan kegelisahan Egwene menunjukkan bahwa The Wheel of Time tak cuma tentang pertarungan fisik, tapi juga pergulatan batin.
Dari Season 1 ke 2, The Wheel of Time berevolusi dari adaptasi yang “hati-hati” menjadi produksi yang lebih percaya diri. Dunia yang awalnya terasa terbatas kini meluas: dari Shienar, Cairhien, hingga menara Aes Sedai. Namun, ada beberapa hal yang masih mengganggu, seperti pacing yang tidak konsisten di episode tertentu dan pengembangan karakter sekunder yang terkesan terburu-buru.
Tapi, sebagai penonton yang late to the party, aku justru bersyukur bisa menikmati dua musim ini tanpa jeda panjang. Rosamund Pike tetap menjadi pilar terkuat serial ini, tetapi para pemain muda—khususnya Zoë Robins sebagai Nynaeve—mulai bersinar dengan intensitas yang menggigit.

Sebuah Saga yang Layak Diikuti
The Wheel of Time bukan sekadar saingan Game of Thrones atau Lord of the Rings. Ini adalah saga yang punya DNA sendiri: kompleks, spiritual, dan penuh mitos yang tertanam dalam setiap karakternya. Untukmu yang, seperti aku, terlambat menonton: jangan ragu. Benang Takdir mungkin sudah menunggu, tapi roda waktu akan terus berputar—dan kita punya kesempatan untuk menyaksikannya sebelum Season 3 tiba!
Sekarang, izinkan aku kembali menyesal karena harus menunggu setahun lagi untuk kelanjutannya…



