Pernahkah kita mencoba melihat sesuatu dari sudut pandang orang lain? Sebagai tenaga kesehatan, saya terbiasa melihat Puskesmas dari balik meja kerja. Saya memahami alur pelayanan, mengerti mengapa pasien harus mengambil nomor antrean, tahu alasan petugas meminta kartu identitas, bahkan paham mengapa terkadang pelayanan sedikit terlambat karena banyak hal yang harus dipersiapkan. Namun suatu hari saya berpikir, “Bagaimana jika saya berada di posisi pasien?” Bukan sebagai petugas. Bukan sebagai orang yang memahami sistem. Melainkan sebagai masyarakat biasa yang datang dengan kondisi tubuh yang tidak nyaman dan berharap segera mendapatkan pertolongan. Dan semakin saya membayangkannya, semakin saya memahami bahwa menjadi pasien ternyata…
-
-
“Gimana mau maju pendidikan di Indonesia kalau lembaga pendidikannya aja dijadikan bahan perdagangan?”Begitu kata seorang teman dalam obrolan santai kami di sore hari. Kalimatnya singkat, tapi menohok. Aku sempat terdiam mendengar ucapannya. Di satu sisi, aku tahu maksudnya: banyak lembaga pendidikan sekarang yang rasanya lebih fokus ke bisnis daripada misi mendidik. Di sisi lain, aku juga paham perasaan para orang tua yang ingin memberikan pendidikan terbaik untuk anak-anak mereka — meskipun harus merogoh kantong dalam-dalam. Tapi, bukankah ironis kalau pendidikan — sesuatu yang seharusnya menjadi jalan untuk mencerdaskan bangsa — justru jadi ajang jual-beli gengsi? Ketika Sekolah Jadi Etalase Gengsi…



