literasi parenting

(Catatan) Dari Buku Anak Juga Manusia #1

Anak-Anak

adalah Mahakarya Tuhan

yang Sempurna.

Tidak ada yang pernah salah

dengan desain Tuhan.

Semua anak terlahir suci.

Anak kita hari ini adalah dari serangkaian

apa yang mereka lihat, dengar dan rasakan.

Jangan bermimpi untuk mendidik anak-anak

dengan baik, jika kita tidak mengubah cara-cara kita

dalam mendidik anak, yaitu mengubah cara-cara kita

memperlakukan anak dengan lebih baik.

Jangan bermimpi untuk mengubah cara-cara kita

dalam memperlakukan anak, jika kita tidak mau

mengubah cara kita dalam memandang anak.

Jangan bermimpi untuk mengubah cara kita

dalam memandang anak,

jika kita tidak mau BELAJAR….

Anak Juga Manusia Hlm. 9

Hai semuanya, akhirnya saya kesampaian juga untuk membaca buku karangan dari Angga Setyawan yang berjudul Anak Juga Manusia. Ada beberapa catatan setelah membaca buku ini. Buku ini terbagi atas beberapa bab. Buku ini sangat bermanfaat untuk saya dalam menambah ilmu tentang parenting.

A. Belum Punya Pengalaman vs Sudah Punya Pengalaman

pixabay.com

Sebenarnya tidak ada perbedaan yang mencolok bagi yang belum mempunyai pengalaman dan yang sudah mempunyai pengalaman setiap anak memiliki karakteristik yang berbeda-beda, bukan?. Dalam mendidik anak tidak ada hasil yang instan, semua perlu proses.

Tidak hanya cukup dengan browsing tentang cara mendidik anak, membeli dan membaca buku parenting, mengikuti seminar-seminar parenting, praktik tetapi kita juga perlu mengevaluasi diri kita sendiri saat praktik.

Jika kita punya harapan besar terhadap anak. Kita sendiri harus punya upaya yang besar belajar soal anak. Kita perlu belajar secara sistematis soal anak agar tahu situasi yang sedang dihadapi. Ibarat membeli mobil, kita perlu belajar mengemudikan dan merawatnya, apalagi ini menyangkut anak-anak. Tanpa tambahan ilmu akan sulit bagi kita untuk mendidik dan mengasuh anak dengan baik. Tanpa ilmu, kita akan memakai cara asal-asalan.

Kita tidak dirancang untuk gagal mendidik anak. Namun, kadang kitalah yang merancang kegagalan kita sendiri dalam mendidik hanya karena kita tidak belajar.

@anakjugamanusia

B. Waktu Berjalan Cepat

pixabay.com

Masa kecil merupakan proses pembentukan diri kita. Begitu pula anak-anak kita saat ini. Anak-anak sangat butuh perlakuan yang benar dan bijaksana bukan sekadar materi. Materi hanyalah sarana pendukung tetapu hati seorang anak perlu untuk kita besarkan, perlu untuk kita jaga, perlu untuk kita tumbuhkan.

Peran orangtua sangat vital bagi perkembangan anak. Orang tua adalah model bagi anak dan juga menjadi benteng terakhir bagi anak. Nikmati keberadaan mereka saat ini. Mulailah menjadi teladan. Sikap kita terhadap keluarga memengaruhi sikap anak di keluarga.

Jaga sikap kita untuk selalu positif dalam berinteraksi di keluarga. Kebanyakan dari kita bahkan terlalu cepat marah saat anak kita berbuat yang kurang berkenan di hati. Namun, kita sangat sering terlambat memuji atau bahkan sama sekali tidak memuji saat anak berbuat sesuatu yang benar. Di dalam hati seorang anak, yang mereka tunggu adalah pujian tulus dari oran tua.

Waktu terus berjalan dengan cepat. Tanpa kita sadari, anak-anak akan tumbuh dan memiliki kehidupannya sendiri. Nikmati keluguannya, celotehnya, salahnya, hebatnya dan sebagainya karena mereka adalah anak-anak kita. Tiada orang lain yang dapat mengenal mereka dengan baik kecuali diri kita sendiri.

Mendidik bukanlah semata transfer pengetahuan saja tetapi juga menyiapkan anak-anak agar sanggup mendidik dirinya sendiri sepanjang hidup.

@anakjugamanusia

C. Pendidikan Rumah

pixabay.com

Fondasi dasar utama pendidikan seorang anak itu ada di rumah yaitu pendidikan rumah. Untuk itu diperlukan beberapa hal, sebagai berikut :

  • Usahakan saat bicara dengan anak, sejajarkan mata kita dengan matanya. Jika ia lebih pendek, kita harus berjongkok. Dengan begitu, ia akan merasa kita adalah sahabatnya bukan bosnya dan kita akan merasa lebih nyaman, ‘terbukti’.
  • Bicaralah dengan nada yang tenang, hindari bentakan, amarah atau nada tinggi. Jika kita tenang, anak-anak belajar hal yang sama dan ia melihat bahwa kita sedang serius berbicara. Namun, jika sebaliknya, anak-anak melihat kita sedang panik dan seperti biasa, anak-anak adalah peniru yang luar biasa.
  • Berikan apresiasi, biasakan memberi apresiasi sehingga kita tidak perlu memberi iming-iming barang jika kita minta melakukan sesuatu.
  • Lihatlah kelebihannya lebih sering ketimbang kekurangannya. Misalnya nilai ulangannya 90 tetapi yang biasanya kita tanyakan malah, ‘Loh, Dek, kok salah satu, apa yang ndak isa?’ kita tidak melihat justru yang betul 9 nomor. Ini sangat penting karena membantu kita untuk terbiasa melihat kelebihannya terutama kelebihan di luar akademik.
  • Ciptakan lingkungan yang kondusif. Hindari menyuruh anak belajar, tetapi kita malah sedang menonton TV atau menyuruh mereka membaca buku tetapi kita bahkan tidak pernah membaca buku.

Anak-anak lebih senang jika diajak bukan disuruh. Mereka juga senang jika kita dapat memberi contoh karena mereka butuh panutan atau pemimpin dan yang paling dekat adalah kita sebagai orangtua.

@anakjugamanusia

Bukan hal yang mudah mempersiapkan anak untuk lingkungan dari rumah karena menyangkut tentang keseluruhan proses kita dalam mendidik anak.

Apa yang selama ini kita katakan padanya tentang nilai-nilai kehidupan juga sangat mempengaruhi anak agar tetap setia pada yang benar meski ia berdiri di lingkungan yang salah.

Cara kita menyampaikan pun jangan seperti sedang menggurui. Sampaikan nasihat kita melalui obrolan-obrolan yang santai lalu beri contoh. Anak juga perlu diberi kesempatan untuk terbiasa mengambil keputusan dan merasakan akibat dari keputusannya tersebut.

Perilaku anak ikut dibentuk oleh kata-kata sehari-hari yang ia dengar tentang dirinya. Dapat dibayangkan jika kata-kata itu adalah nakal, malas, bodoh dan sebagainya.

@anakjugamanusia

D. Kekuatan Kata-Kata

Anak-anak sangat peka terhadap kata-kata yang mereka terima dari apa yang mereka dengar. Bukan hanya sangat peka tetapi anak-anak menyerap apa pun yang mereka dengar.

Pesannya adalah hati-hati dengan yang anda katakan kepada anak-anak terutama jika menyangkut labeling yang buruk seperti kamu nakal, bodoh, tidak bisa atau tidak akan sukses. Apresiasilah mereka tahan kata-kata yang buruk, gantilah dengan kata-kata yang positif. Jika sedang kesal atau emosi tarik diri sebentar. Jadi sebaiknya kita berhati-hati dalam mengucapkan sesuatu kepada mereka dan di depan mereka.

Kenapa kita suka mendengarkan musik? karena musik itu enak dan asyik. Coba kapan kita bicara seenak dan seasyik itu, orang-orang termasuk anak-anak suka mendengarnya.

@anakjugamanusia

E. The Power Of Water

Dalam hasil penelitian selama lebih dari 20 tahun tersebut ditemukan bahwa air yang dilabel kata-kata negatif akan membentuk struktur yang buruk atau jelek. Sedangkan air yang dilabel kata-kata positif akan membentuk struktur air yang dominan indah seperti kristal.

Apa hubungannya terhadap anak-anak kita?

Saat dalam perut ibu, 99% tubuh kita adalah air. Saat balita, 90% tubuh kita adalah air. Saat remaja dan dewasa, 70% tubuh adalah air. Saat manula, 50% tubuh kita adalah air. Setelah tahu bahwa sebagian besar dari tubuh anak-anak kita terdiri dari air maka sebaiknya kita harus berhati-hati saat mengucapkan sesuatu atau dalam membawa perasaan kita terhadap anak-anak.

Apa yang kita katakan kepada anak, jika mereka percaya di level bawah sadarnya, tubuhnya yang sebagian besar adalah air akan membentuk struktur yang mengikuti ucapan kita.

@anakjugamanusia

Orantua yang tidak mengubah cara pandangnya terhadap anak tidak akan dapat mengubah apa pun.

@anakjugamanusia

Banyak hal yang saya dapat dari membaca buku Anak Juga Manusia ini. Sebagai orang tua baru yang masih minim dengan ilmu parenting buku ini sangat membantu untuk saya dalam mengelola emosi dan pikiran.

Ini adalah catatan singkat yang saya buat dari buku Anak Juga Manusia. Semoa berguna bagi para orangtua semua.

Salam Hangat,

FHZ

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *