Apa monster paling menakutkan justru bersembunyi di dalam hati kita sendiri?
Bayangkan: tengah malam, seorang anak lelaki bernama Connor terbangun bukan oleh mimpi buruk, melainkan oleh kunjungan pohon raksasa yang mengaku datang untuk ‘menceritakan kebenaran’. Tapi ini bukan dongeng pengantar tidur—ini kisah tentang bagaimana menghadapi rasa sakit yang begitu dalam, hingga kita lebih memilih menyangkalnya sebagai mimpi buruk.
A Monster Calls karya Patrick Ness bukan sekadar novel fantasi. Ini adalah cermin bagi siapa pun yang pernah merasa bersalah, marah, atau terasing karena emosi yang terlalu berat untuk diungkapkan. Lewat monster pohon yew yang kuno dan ilustrasi gelap Jim Kay, Ness membawa kita ke dalam perjalanan Connor—seorang anak yang dipaksa berhadapan dengan kebenaran pahit tentang kehilangan, sementara dunia di sekitarnya berpura-pura semua baik-baik saja.

Jika kita pernah merasa:
- “Aku tidak boleh marah, aku harus kuat,” padahal hati remuk redam.
- “Aku takut mengakui yang sebenarnya, bahkan pada diriku sendiri.”
- “Apa aku jahat karena merasa lega?”
…maka buku ini akan menggenggam tangan kita, mengajak kalian berani melihat ke dalam kegelapan itu. Di ulasan ini, kita akan membedah mengapa A Monster Calls layak menjadi bacaan wajib—bukan hanya untuk remaja, tapi untuk siapa saja yang pernah merasakan betapa sulitnya jujur pada diri sendiri.
Siapkan hati dan secangkir teh hangat. Karena setelah membaca ulasan ini, kita mungkin akan tergoda untuk segera membuka halaman pertama buku ini—dan membiarkan monster itu mengunjungi kita.”
A Monster Calls (Panggilan Sang Monster)
Penulis : Patrick Ness
Alih Bahasa : Nadya Andwiani
Terbit : 2016
Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama
ISBN : 978-602-03-2081-6

A Monster Calls bukan sekadar novel fantasi tentang seorang anak dan monster pohon. Ini adalah cerita yang menyayat hati tentang kesedihan, rasa bersalah, dan keberanian untuk jujur pada diri sendiri. Patrick Ness, melalui prosa puitisnya, menciptakan kisah yang universal namun intim—sebuah cermin bagi siapa pun yang pernah berjuang melawan emosi yang terlalu berat untuk diungkapkan.
Jika kalian mencari buku yang menggugah jiwa, menantang persepsi tentang keberanian, dan menghubungkan pembaca dengan sisi manusiawi mereka yang paling rapuh, inilah buku yang wajib masuk ke daftar bacaan kalian.

Alasan Harus Membaca A Monster Calls
- Kisah yang Menyentuh Hati Tanpa Terkesan Melankolis
Meskipun mengangkat tema kematian dan kesedihan, Ness menghindari sentimentalitas berlebihan. Cerita Connor, sang protagonis, dipenuhi metafora cerdas melalui kunjungan “monster” pohon yew yang justru menjadi simbol penyembuhan. Buku ini tidak membuat Anda tenggelam dalam kesedihan, tetapi justru memberi ruang untuk bernapas dan memahami luka. - Pesan tentang Kejujuran yang Menyelamatkan
Monster dalam cerita ini tidak datang untuk menakuti Connor, melainkan memaksanya mengakui kebenaran paling menyakitkan yang ia sembunyikan. Buku ini mengajarkan bahwa keberanian sejati bukanlah melawan rasa takut, tetapi berani mengakui kelemahan, kemarahan, bahkan rasa bersalah yang kita anggap “tabu”. - Kombinasi Sempurna antara Teks dan Visual
Ilustrasi hitam-putih karya Jim Kay (ilustrator Harry Potter) menambah dimensi emosional cerita. Setiap goresan gambarnya seperti mencerminkan kegelapan dan harapan yang bertarung dalam diri Connor. - Tema Universal yang Relevan untuk Semua Usia
Meski dikategorikan sebagai young adult, buku ini berbicara kepada remaja hingga dewasa. Setiap fase kehidupan memiliki “monster”-nya sendiri—entah itu kehilangan, kegagalan, atau penolakan—dan Ness mengajak kita berdialog dengannya.
Pesan Utama: Kebenaran yang Lebih Besar dari Sekadar “Happy Ending”
A Monster Calls menolak memberikan solusi instan untuk kesedihan. Pesan terkuatnya justru terletak pada penerimaan bahwa tidak semua luka bisa sembuh dengan cepat, dan tidak semua kebenaran mudah diterima. Buku ini mengingatkan kita bahwa:
- Kejujuran pada diri sendiri adalah bentuk keberanian tertinggi.
- Kesedihan bukanlah musuh, melainkan bagian dari proses menjadi manusia.
- Cinta dan kehilangan adalah dua sisi mata uang yang tak terpisahkan.
Monster pohon dalam cerita ini adalah metafora brilian: ia mewakili kebenaran yang kita hindari, tetapi juga kekuatan untuk bertahan ketika kita berani menghadapinya.

Pemilihan Diksi dan Gaya Penulisan Patrick Ness
Patrick Ness menulis dengan bahasa yang sederhana namun penuh kedalaman, cocok untuk pembaca remaja maupun dewasa. Ia menggunakan:
- Metafora kuat (misal: monster sebagai personifikasi kebenaran, pohon yew yang terkait dengan kematian dan keabadian).
- Dialog tajam antara Connor dan monster yang penuh filosofi hidup.
- Alur perlahan yang memungkinkan pembaca merenungkan setiap emosi yang ditampilkan.
Kekuatan terbesar Ness adalah kemampuannya membuat pembaca merasa “tertusuk” oleh kalimat-kalimat pendek namun menusuk, seperti:
“You do not write your life with words, you write it with actions. What you think is not important. It is only important what you do.”
Siapa yang Cocok Membaca Buku Ini?
- Remaja yang sedang belajar memahami emosi kompleks.
- Orang dewasa yang pernah merasakan beban kehilangan atau konflik batin.
- Pecinta sastra yang menyukai cerita berbasis karakter dengan simbolisme kuat.
- Setiap orang yang perlu diingatkan: “It’s okay to not be okay.”

Penutup: Mengapa A Monster Calls Akan Mengubah Cara Pandang Anda?
Buku ini bukan tentang monster, melainkan tentang manusia dan kebenaran-kebenaran yang mereka sembunyikan di balik topeng. Patrick Ness tidak hanya bercerita—ia membuka pintu bagi pembaca untuk berdamai dengan diri sendiri.
A Monster Calls adalah buku yang akan membuat kalian menangis, tetapi juga merasa lebih ringan setelahnya. Ia seperti pelukan bagi jiwa yang terluka, dan pengingat bahwa kejujuran—meski terasa menakutkan—adalah satu-satunya jalan untuk benar-benar pulih.
Baca buku ini jika kalian siap untuk:
- Terhubung dengan emosi yang selama ini diabaikan.
- Menemukan keberanian dalam kerapuhan.
- Mengalami kisah yang takkan mudah dilupakan, bahkan bertahun-tahun kemudian.



