Kaidah emas ‘lakukan pada orang lain sebagaimana anda ingin diperlakukan‘ adalah landasan moral yang mudah sekali diterima oleh semua orang di mana pun. Maka moral yakni soal benar/salah sesungguhnya mudah dipahami secara intuitif. Tapi mengapa moral menjadi isu paling krusial di tengah masyarakat kita?
Lihatlah fakta : Indonesia konon salah satu negara paling religius tapi masuk peringkat (ter) tinggi korupsi di dunia. Ratusan ribu orang setiap tahun mampu berhaji dan umrah tapi problem kemiskinan begitu mengerikan. Betapa sulitnya mengajarkan kebersihan dan ketertiban di ruang publik, semisal membuang sampah sembarangan dan saling serobot di jalan raya. Mengapa orang kita lebih mudah tertib di Singapura daripada di negeri sendiri? Mengapa justru di negeri yang masyarakatnya mementingkan agama, moralitas seperti terabaikan?
Filsafat Moral (Dari Al-Ghazali, Pakubuwana VI, Lawrence Kohlberg, Hans Jonas)
Penulis : Fahruddin Faiz
Terbit : Juli 2024
Penerbit : PT. Mizan Pustaka
ISBN : 978-602-441-350-7
LAWRENCE KOHLBERG
Ada empat hal yang secara psikologis memengaruhi perilaku moral kita:
- Sensitivitas Moral : berhubungan dengan kepekaan dan perasaan
- Penilai Moral : berhubungan dengan pikiran dan kecerdasan
- Motivasi Moral : dorongan dari dalam diri sendiri untuk berbuat baik
- Implementasi Moral : gabungan antara sensitivitas ditambah kecerdasan untuk menilai, di dorong motivasi dalam diri lalu di konkretkan melalui anggota tubuh menjadi tindakan nyata.

Manusia yang bermoral baik adalah manusia yang mampu mencapai puncak hierarki aktualisasi diri. Dan ciri-ciri orang sudah mencapai aktualisasi diri tersebut, yaitu :
- Mandiri : dia telah melepaskan kebergantungan pada apa pun dan siapa pun selain pada dirinya sendiri.
- Realistis : mampu menerima kenyataan hidup
- Problem Solver : mampu menyelesaikan masalah apa pun dalam hidupnya.
- Selera humor tinggi : orang yang bisa berhumor ria itu menandakan hidupnya nyaman.
Cara meningkatkan kualitas moral menurut Kohlberg :
- Teladan Moral : kalau ingin banyak orang bermoral, mesti banyak juga teladan moral yang menjadi rujukan. semakin sedikit rujukan semakin sulit kita mengembangkan perilaku moral. kunci pertama pendidikan moral adalah teladan moral.
- Diskusi tentang dilema moral
- Mendirikan lembaga-lembaga untuk menerjemahkan prinsip-prinsip moral dalam wujud nyata
HANS JONAS
Mengapa kita memerlukan etika baru untuk menghadapi perkembangan teknologi dan tidak cukup menggunakan etika tradisional? menurut Hans Jonas etika tradisional kurang mencukupi. Etika tradisional hanya memikirkan kebaikan yang berlangsung sekarang tapi tidak melihat efeknya nanti untuk generasi mendatang. Maka Hans Jonas mengusulkan etika untuk masa depan yang kemudian akan dikenal sebagai etika masa depan.
Etika masa depan menurut Jonas bukan berarti timbal balik. Kita berbuat baik bukan hanya untuk orang-orang yang hidup sekarang tetapi juga untuk generasi mendatang yang belum ada. Asas etika masa depan bukan timbal balik tetapi tanggung jawab. Kenapa kita harus bertanggung jawab pada masa depan? karena kita terpanggil. Terpanggil itu berarti tidak ada yang memanggil atau menyuruh kita tapi kita sendiri yang terpanggil. Tanggung jawab itu bukan bersifat timbal balik bukan transaksi yang hendak mencari keuntungan apa pun. Mungkin malah kita harus berkorban. Jadi keterpanggilan itu muncul bukan dari perintah eksternal tapi dari suara hari kita sendiri ketika merespons situasi.

Menurut Jonas, ada dua jenis tanggung jawab yaitu model orang tua dan negarawan.
- Tanggung jawab model orang tua bersifat alamiah, konkret, dekat dan akrab. Orang tua tidak perlu belajar untuk peduli dan sayang anak. Begitu punya anak orang tua langsung sayang anak.
- Tanggung jawab negarawan bersifat buatan, abstrak dan tidak akrab. Rasa sayang negarawan pada negara bersifat abstrak sehingga perlu pijakan-pijakan untuk menumbuhkan rasa sayang itu.
Ciri tanggung jawab :
- Menyeluruh : kita bertanggung jawab pada totalitas yang kita tanggung jawabi, misalnya tanggung jawab pada keseluruhan hidup anak. kita bukan cuma bertanggung jawab di urusan makannya saja tetapi kita juga mesti memikirkan pendidikan, mental, moral, kesehatan dan lain-lain.
- Berkelanjutan : tidak mengenal jeda dan istirahat. dalam situasi apa pun kita tetap di minta tanggung jawab. bukan hari ini bertanggung jawab pada anak lalu besok dilupakan begitu saja.
- Terarah ke masa depan : kita bertanggung jawab tidak hanya hari ini tetapi terus lestari sampai masa depan.
AL-GHAZALI
Al-Ghazali mendefinisikan akhlah adalah suatu perangai (watak, tabiat) yang menetap kuat dalam jiwa seseorang dan merupakan sumber timbulnya perbuatan-perbuatan tertentu dari dirinya, secara mudah dan ringan tanpa perlu dipikirkan atau direncanakan sebelumnya. Akhlak bukanlah pengetahuan (ma’rifah), kodrat (qudrah) maupun pengamalan (fi’il) tentang baik dan buruk melainkan suatu keadaan jiwa yang mantap. Akhlah merupakan kondisi jiwa atau batin.
Ada dua syarat akhlak :
- Stabil : selalu begitu yang dia lakukan baik kemarin, hari ini maupun besok
- Spontan : muncul dengan mudah tanpa dipaksa. jadi kalau kita ingin mendeteksi akhlak seseorang bagus atau tidak, ceklah kebiasan-kebiasaan dan perilaku-perilaku spontannya.

PAKUBUWANA IV
Pakubuwana IV adalah seorang raja dan sekaligus sastrawan atau pujangga. Pakubuwana IV memberi wejangan melalui karyanya Serat Wulangreh. Beberapa nasihatnya itu adalah
- Janganlah jadi orang yang tidak tahu sopan santun dan tidak rendah hati. Setinggi apa pun ilmumu, kecerdasanmu dan kemampuan berpikirmu, dirimu tetap tidak akan berharga kalau tidak tahu sopan santun.
- Janganlah sombong, merasa besar atau mentang-mentang. Merasa besar (takabur) pasti bikin kita mandek dan macet karena kita merasa sudah selesai, tuntas, final.
- Janganlah membanggakan statusmu
- Jauhi (bersihhkan diri) dari penyakit hati seperti dengki, tidak setia, iri, provokator, egoistis, suka ikut campur, tidak sederhana, usil, memiliki sifat akal busuk, curang.
- Jauhi mengumbar kejelekan orang dan menyembunyikan kebaikan orang.
- Janganlah bersikap lanya (kata-katanya tidak bisa dipegang), mudah tergiur sesuatu, lekas bosan dan putus asa, senang berselingkuh dengan istri orang, di awal terdengar baik tapi menggerutu di belakang, tidak dapat menyimpan rahasia.
- Berbaktilah pada lima pihak : berbakti kepada orang tua, berbakti kepada ayah-ibu mertua, berbakti kepada saudara tua, berbaki kepada guru (khususnya guru sejati), berbakti kepada Tuhan. Kunci kemuliaan ada di situ. Jika kita mendapatkan keridhaan dari lima pihak itu hidupmu akan diberi kemudahan dan kemuliaan serta jauh dari kesulitan.
- Jika kita memiliki sifat-sifat buruk seperti : malas dan cuek alias tidak peduli dengan hidupnya sendiri dan akhirnya menjadi tontonan dan omongan orang, main judi, menginginkan apa yang dimiliki orang lain dan mencari untung sendiri. Beliau memberi nasihat untuk segera berhenti maka akan merugikan dirinya sendiri.
Terus tirakatlah dan latihlah dirimu dengan keras. Batasilah makan dan tidurmu. Kendalikan nafsu dan tenangkan batinmu. Jangan (terlalu) terikat dengan dunia. Keterkaitan pada dunia menyebabkan batin tidak tenang dan nafsu sulit dikendalikan.
selamat membaca!
selamat menemukan diri sendiri~


