Tidak semua orang beruntung dibesarkan di lingkungan keluarga yang ‘sehat’ dan bisa bertumbuh kembang secara positif lahir dan batin. Banyak dari kita yang dibesarkan dengan pola asuh toksik atau yang sama kita dengar sebagai istilah ‘toxic parenting‘. Toxic parenting tidak selalu identik dengan kekerasan. Justru ia lebih sering berwujud komunikasi verbal dan non verbal yang tidak disadari oleh orang tua terhadap anak dan sering kali dianggap wajar.
Toxic Parent : Just Because They Give You Life Doesn’t Meant The Will Love You in The Right Way
Penulis : Agnes Chin
Terbit : 2023
Penerbit : Penerbit Brilliant
ISBN : 978-623-5307-24-4
Dalam budaya ketimuran orang tua memiliki posisi yang lebih dominan. Secara strata orang tua memiliki posisi yang lebih superior. Dalam budaya Indonesia sejak kecil kita mendengar dan diajari bahwa seorang anak harus patuh terhadap orang tua. Itu adalah hal yang wajar. Jika kepatuhan itu mendasar dan positif tentu saja bisa dimaklumi. Di Indonesia pemakluman akan tindakan keras orang tua terhadap anak sering kita jumpai. Saat ini dengan perkembangan zaman dan perkembangan ilmu psikologi di Indonesia kekerasan terhadap anak dan tindakan disipliner kepada anak sudah menjadi perhatian lebih oleh pemerintah dan lembaga-lembaga perlindungan anak.

Perilaku toksik orang tua kepada anak dan bentuk-bentuk hubungan toksik ini sering tidak disadari oleh kedua belah pihak, pihak orang tua dan anak sendiri hingga pada akhirnya sudah berdampak bahkan menyebabkan trauma. Beberapa jenis perilaku orang tua yang bisa kita deteksi sebagai perilaku toksik :
- Narcissistic ParentsĀ
Orang tua narsis akan mementingkan dirinya sendiri di atas kepentingan anak mereka. Orang tua narsistik merasa anak-anak tidak lebih baik dari mereka dan merasa perlu berkompetisi dengan anak-anak mereka.
- Abusive Parents
Kekerasan orang tua terhadap anak tidak selalu dalam bentuk kekerasan fisik tetapi juga kekerasan emosional. Dalam penelitian psikologi ditemukan bahwa kekerasan psikologis sangat berdampak pada perkembangan tumbuh kembang anak secara negatif; memengaruhi perkembangan emosional anak, perilaku sosial, perkembangan kognitif, sikap agresif hingga pada masalah syaraf.
- Manipulative Parents
Secara sadar dalam hubungan di sebuah keluarga ada aksi manipulatif. Tiap anggota keluarga bisa melakukan manipulasi untuk mengendalikan dan mendapatkan apa yang mereka inginkan dari anggota keluarga yang lain.
- Immature Parents
Sebagian besar ‘immature parents‘ tidak memiliki kesadaran bagaimana mereka bisa memengaruhi anak mereka dengan perilaku mereka. Mereka hanya terbiasa mengandalkan perasaan mereka dalam segala hal, bersikap emosional dalampengambilan keputusan dan cenderung kesulitan mengendalikan diri.

Racun yang dimaksud dalam konsep orang tua toksik adalah ketika apa yang diberikan oleh orang tua dalam mendampingi dan mendidik anak justru menjadi racun dan menghancurkan anak itu sendiri. Beberapa akibat yang diterima dari toxic parenting :
- Kita memiliki risiko mengalami anxiety/kecemasan lebih tinggi
- Kita memiliki risiko mengalami stress akibat trauma PTSD (post traumatic)
- Kita cenderung mengkritik diri sendiri
- Kite lebih sering mengalami masalah kesehatan
- Kita menjadi tidak nyaman dengan diri kita sendiri (insecure) dan ini memengaruhi hubungan-hubungan kita dengan orang lain
Beberapa dampak perilaku orang tua toksik terhadap anak :
- Kita menjadi sulit menerima kritik dan kegagalan
- Kita menjadi sulit memercayai orang lain
- Kita jadi sulit memperhatikan diri kita sendiri
- Kita menjadi tidak percayai diri dan sering mengkritisi diri
- Kita sering merasa serba salah
Menjadi orang tua memang tidak mudah tetapi memiliki anak adalah sebuh amanah yang harus kita jalankan dengan usaha terbaik kita untuk menyiapkan masa depan yang bertanggung jawab. Bagaimana mungkin kita bisa membersarkan seorang anak jika kita tidak cukup mengenal diri sendiri dan menyadari pentingnya peran kita sebagai orang tua. Sadhguru (seorang yogi dan penasihat spiritual) menyebutkan ada tiga peranan terpenting menjadi orang tua :
- memberikan cinta
- memberikan perhatian
- memberikan disiplin
selamat bertumbuh!
selamat belajar!


