Dari Dinosaurus Hingga Alien: Ulasan Fantasi Absurd dalam Untunglah, Susunya Karya Neil Gaiman

Bayangkan ini: Seorang ayah keluar rumah hanya untuk membeli susu, tapi pulangnya membawa cerita tentang dinosaurus pemilik mesin waktu, alien hijau pencinta musik reggae, dan bajak laut vampir yang takut pada hantu. Untunglah, Susunya karya Neil Gaiman bukan sekadar dongeng anak—ini adalah tiket masuk ke dunia di mana logika minggir, imajinasi naik takhta, dan segelas susu bisa jadi pahlawan penyelamat semesta. Siapkan tawa dan kejutannya, karena Gaiman akan membawa kita berlari kencang melewati batas-batas kenyataan!

Untunglah, Susunya
Penulis : Neil Gaiman
Alih Bahasa : Djokolelono
Terbit : 2014
Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama
ISBN : 978-602-03-1225-5

Neil Gaiman, maestro cerita fantasi yang kerap menyulap hal-hal biasa menjadi luar biasa, kembali membuktikan kejeniusannya lewat Fortunately, The Milk (diterjemahkan sebagai Untunglah, Susunya). Buku anak-anak ini tidak sekadar bercerita tentang seorang ayah yang pergi membeli susu, tetapi mengubah tugas sederhana itu menjadi petualangan absurd yang melibatkan dinosaurus pemilik mesin waktu, alien hijau penghisap otak, bajak laut vampir, dan dewa kuno yang haus kekuasaan. Gaiman menggabungkan humor konyol, imajinasi tak terbatas, dan sentuhan kehangatan keluarga dalam sebuah kisah yang membuat pembaca—baik anak maupun dewasa—tertawa sekaligus terpukau.

Cerita dimulai ketika seorang ayah (yang namanya tak disebutkan) pergi ke toko untuk membeli susu karena persediaan di rumah habis. Namun, ia kembali terlambat dengan alasan yang mustahil: ia diculik oleh alien, bekerja sama dengan Stegosaurus pemilik mesin waktu, bertemu dengan raja bajak laut yang takut akan ibu mereka, dan hampir dikorbankan untuk “Dewa Yang Mengembara” di atas gunung berapi. Semua ini, katanya, terjadi hanya karena ia ingin membawa pulang susu untuk anak-anaknya.

Fantasi Absurd: Di Mana Logika Bertemu Kelucuan

Gaiman tidak setengah-setengah dalam menciptakan dunia absurd. Dinosaurs yang bicara dengan aksen profesor Inggris, alien hijau yang menyukai musik reggae, dan kapten bajak laut vampir yang takut pada hantu—semua elemen ini dirajut dengan gaya bercerita yang cepat, kocak, dan penuh kejutan. Justru di tengah kekonyolan inilah pesona buku ini muncul. Gaiman seolah berkata: “Mengapa serius? Mari kita terbang bersama dinosaurus dan tertawa!”

Adegan paling absurd sekaligus menggemaskan adalah ketika sang ayah harus menjelaskan pada “Polisi Galaktik” bahwa susu di tangannya bukan senjata pemusnah massal. Atau ketika ia bertemu dengan “Ratu Planet Porfum” yang ingin mengubahnya menjadi patung es krim. Setiap bab dipenuhi dengan kejutan yang semakin tidak masuk akal, tapi justru di situlah letak kejenakaannya.

Humor yang Menyentuh Segala Usia

Meski ditujukan untuk anak-anak, humor dalam buku ini memiliki lapisan yang bisa dinikmati pembaca dewasa. Ayah dalam cerita ini adalah personifikasi “ayah konyol” yang suka berandai-andai, sementara anak-anaknya (yang menjadi narator) terus-menerus skeptis: “Ayah, ini kan cuma alasan karena Ayah lupa beli susu kemarin?” Dialog-dialog jenaka antara ayah dan anak menjadi jantung cerita, mengingatkan kita pada kehangatan hubungan orang tua dan anak yang penuh canda.

Tak ketinggalan, Gaiman menyelipkan parodi halus terhadap film sci-fi klasik, novel petualangan, bahkan budaya pop—seperti alien yang mirip dengan karakter Doctor Who atau dinosaurus yang mengutip Monty Python.

Karakter: Ayah yang (Mungkin) Pahlawan atau Pembual?

Sang ayah adalah tokoh sentral yang ambigu: apakah ia benar-benar mengalami petualangan gila ini, atau hanya mengarang cerita untuk menutupi kelalaiannya? Gaiman membiarkan pembaca memutuskan sendiri. Namun, yang jelas, karakter ini adalah sosok yang relatable—seorang orang tua yang berusaha menjadi “keren” di mata anak-anaknya, meski caranya sangat tidak masuk akal.

Stegosaurus bernama “Professor Steg” dan kawanan alien “Globbot” yang ingin menguasai Bumi dengan wafel juga menjadi karakter pendukung yang tak terlupakan. Mereka tidak hanya lucu, tetapi juga memberikan sentuhan satire pada stereotip cerita petualangan konvensional.

Ilustrasi dan Gaya Bercerita

Dalam edisi berilustrasi (versi Chris Riddell atau Skottie Young), gambar-gambar hidup dan penuh ekspresi ini memperkuat nuansa absurd cerita. Adegan seperti ayah yang terombang-ambing di kapal bajak laut atau Professor Steg dengan kacamata dan jas lab menjadi lebih hidup berhasil membuat imajinasi pembaca melanglang buana. Gaya penulisan Gaiman yang ringan, dialog cepat, dan alur yang tak pernah berhenti bergerak membuat buku ini cocok dibaca dalam sekali duduk—persis seperti dongeng sebelum tidur yang penuh keajaiban.

Pesan di Balik Kekonyolan

Di balik segala kekacauan dan humor, Gaiman menyelipkan pesan sederhana: imajinasi adalah alat terhebat untuk menyambungkan orang tua dan anak. Cerita ayah ini mungkin tidak masuk akal, tapi justru di situlah letak keindahannya. Ia menciptakan momen kebersamaan, di mana anak-anak belajar bahwa “kebenaran” bisa lebih menarik daripada fakta. Selain itu, buku ini juga mengajarkan tentang keberanian (meski dalam bentuk konyol), pentingnya keluarga, dan tentu saja… untunglah ada susu!

Kekurangan? Hanya Satu: Anda Akan Ketagihan!

Jika ada kritik, mungkin buku ini terlalu singkat (sekitar 128 halaman). Pembaca akan ingin petualangan sang ayah terus berlanjut. Tapi, justru di situlah kecerdasan Gaiman: ia meninggalkan ruang untuk imajinasi pembaca melanjutkan kisahnya sendiri.

Untunglah, Susunya adalah bukti bahwa Neil Gaiman adalah ahli dongeng modern. Buku ini tidak hanya menghibur, tetapi juga merayakan kekuatan bercerita dan hubungan antara orang tua dan anak. Cocok untuk:

  • Anak-anak yang menyukai petualangan konyol,
  • Orang dewasa yang rindu pada humor absurd ala Monty Python atau Douglas Adams,
  • Siapa pun yang percaya bahwa segelas susu bisa mengubah segalanya.

 

Jika suatu hari Ayah/Ibu pulang terlambat dari membeli susu, tanyakan saja: Apakah bertemu dinosaurus? Atau alien? Atau… jangan-jangan mereka sedang menyelamatkan alam semesta?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *