Merasa Sendiri di Tengah Keramaian? (Review Buku Loneliness is My Best Friend Karya Alvi Syahrin)

Pernah nggak sih, kamu berada di tengah tongkrongan yang ramai, tertawa bareng teman-teman, tapi jauh di lubuk hati terdalam, kamu merasa… kosong? Atau mungkin, kamu sering menatap layar HP di kamar yang gelap, menunggu notifikasi yang tak kunjung datang, lalu bertanya pada diri sendiri: “Kenapa ya, aku merasa sepi banget?”

Kalau kamu mengangguk saat membaca kalimat di atas, welcome to the club. Dan kabar baiknya, aku punya satu rekomendasi buku yang rasanya seperti pelukan hangat di penghujung hari yang melelahkan: Loneliness is My Best Friend karya Alvi Syahrin.

Loneliness is my best friend

Penulis : Alvi Syahrin

Penyunting : Dana Sudartoyo

Terbit : Agustus, 2022

Penerbit : Alvi Ardhi Publishing

ISBN : 978-623-97002-2-5

Bukan Sekadar Buku Self-Help Biasa

Sebagai buku kedua dari seri Self-Healing milik Alvi Syahrin, aku awalnya berekspektasi buku ini akan penuh dengan teori psikologi atau petuah-petuah bijak tentang cara “mengalahkan” kesepian. Ternyata, aku salah besar.

Alvi justru mengajak kita untuk duduk berdampingan dengan rasa sepi itu. Lewat gaya bahasanya yang mengalir, jujur, dan sama sekali tidak menggurui, penulis seolah menepuk pundak kita pelan sambil berbisik, “It’s okay to feel lonely. You survive today, and that’s enough.”

Apa yang Bikin Buku Ini Stand Out?

  • Validasi Tanpa Menghakimi: Banyak dari kita yang merasa bersalah karena merasa kesepian, padahal secara logika kita punya keluarga dan teman. Buku ini memvalidasi perasaan “absurd” tersebut. Kesepian dibahas bukan sebagai penyakit yang harus disembuhkan, melainkan kawan karib yang sedang mencoba memberi tahu kita sesuatu tentang diri kita sendiri.

  • Gaya Bahasa yang Intim: Membaca buku ini tidak terasa seperti sedang dinasihati oleh motivator, melainkan seperti sedang curhat deep talk jam 2 pagi dengan sahabat lama. Diksi yang dipilih Alvi sangat puitis namun tetap merakyat dan mudah dicerna.

  • Bab-bab Pendek yang Digestible: Buat kamu yang mungkin lagi nggak punya banyak energi atau social battery untuk membaca teks yang berat, buku ini sangat bersahabat. Kamu bisa membacanya secara acak, melompat ke bab mana saja yang judulnya paling mewakili perasaanmu hari itu.

Kesimpulan: Teman Terbaik di Kala Redup

Satu kutipan (sekaligus intisari) yang paling membekas buatku setelah menutup lembar terakhir buku ini adalah: Terkadang, berdamai dengan kesepian adalah bentuk self-love yang paling berani.

Jika hari ini kamu merasa dunia berjalan terlalu cepat dan kamu tertinggal sendirian di belakang, cobalah luangkan waktu untuk membaca Loneliness is My Best Friend. Seduh teh hangatmu, cari sudut paling nyaman di kamarmu, dan izinkan buku ini menemanimu.

  • Rating Dariku: ⭐️ 4.8/5

  • Cocok Dibaca Saat: Kamu butuh validasi emosi, merasa burnout dengan interaksi sosial, atau sekadar butuh “teman” ngobrol yang bisa mengerti tanpa banyak bertanya.

Gimana dengan kamu? Apakah kamu sudah pernah membaca karya Alvi Syahrin yang satu ini? Atau ada buku self-healing lain yang jadi comfort book kamu? Yuk, sharing perasaan dan opinimu di kolom komentar di bawah!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *