“Gimana mau maju pendidikan di Indonesia kalau lembaga pendidikannya aja dijadikan bahan perdagangan?”Begitu kata seorang teman dalam obrolan santai kami di sore hari. Kalimatnya singkat, tapi menohok. Aku sempat terdiam mendengar ucapannya. Di satu sisi, aku tahu maksudnya: banyak lembaga pendidikan sekarang yang rasanya lebih fokus ke bisnis daripada misi mendidik. Di sisi lain, aku juga paham perasaan para orang tua yang ingin memberikan pendidikan terbaik untuk anak-anak mereka — meskipun harus merogoh kantong dalam-dalam. Tapi, bukankah ironis kalau pendidikan — sesuatu yang seharusnya menjadi jalan untuk mencerdaskan bangsa — justru jadi ajang jual-beli gengsi? Ketika Sekolah Jadi Etalase Gengsi…
-
-
Pernah kepikiran nggak, kenapa ada negara yang anak-anaknya bisa unggul banget di bidang pendidikan? Kok bisa ya, nilai tes mereka konsisten tinggi, cara belajar mereka efektif, dan yang lebih menarik: sistem sekolahnya benar-benar bikin anak siap menghadapi dunia nyata? Kalau kamu penasaran, buku “The Smartest Kids in The World (Rahasia Anak-Anak Pintar di Dunia, Pola Asuh dan Sistem Pendidikannya)” karya Amanda Ripley ini bisa jadi jawabannya. Amanda Ripley adalah seorang jurnalis yang cerdas dalam membedah isu-isu pendidikan. Dalam buku ini, ia mengajak pembaca untuk “jalan-jalan” ke tiga negara: Finlandia, Korea Selatan, dan Polandia—yang semuanya punya cerita unik dalam membentuk generasi…





