Demi label kesuksesan yang dicapai lebih cepat, kita rela menjadi orang yang miskin waktu dan memiliki kebahagiaan yang tidak menentu. Belum lagi jika kesehatan terganggu karena mesin dalam tubuh terus berpacu. Apakah tidak sayang dengan diri sendiri? Nyatanya hidup cepat tidak selalu tepat untuk semua orang. Ada yang sukanya lari tetapi mungkin kita cocoknya berjalan kaki. Memang lebih lambat tetapi toh pada akhirnya akan sampai juga pada tujuan. Mengapa harus memaksakan diri untuk mengambil kecepatan yang sama dengan orang lain jika kemampuan kita berbeda?
Slow Living, Hidup Bukanlah Pelarian tapi Perjalanan
Penulis : Sabrina Ara
Terbit : 2023
Penerbit : Syalmahat Publishing
ISBN : 978-623-5269-28-3

Jangan menyiksa, sayangilah dirimu. Bergerak cepat di lintasan yang tidak cocok untukmu justru bisa berbahaya, bukan? Cobalah melambat karena hidup adalah perjalanan bukan pelarian. Peradaban yang serba cepat memang tidak bisa kita hentikan. Namun, itu bukan berarti kita harus mengikuti arus hidup yang selalu merayakan kecepatan. Ketika kita kewalahan dengan gaya hidup yang membuat kita terus berlari, kita punya pilihan untuk tetap hidup dengan kecepatan yang manusiawi. Kecepatan yang ramah untuk diri sendiri yang tentu saja tidak ditentukan dengan standar orang lain.
Terbuu-buru memang tidak selalu berarti buruk. Adakalanya kita di tuntut untuk bergerak terburu-buru dan itu justru mengantarkan kita pada pencapaian yang diharapkan. Terburu-buru bisa dialami oleh siapa pun bahkan anak yang berusia 5 tahun. Bukankah ini hal yang biasa? Orang menjadi terburu-buru biasanya karena ada tekanan atau kondisi yang membuatnya harus bertindak demikian. Namun zaman sekarang, di kehidupan modern yang bawaannya selalu ngebut ini, bertindak buru-buru adalah sebuah pilihan. Orang memilih terburu-buru karena tidak ingin tertinggal dan ada ambisi yang harus dikejar. Hingga pada akhirnya hidup dalam peradaban yang serba cepat ini membuat kita semua rentan terkena penyakit buru-buru.
Pada akhirnya, bertindak terburu-buru ataupun tidak, semua ini adalah soal pilihan. Jadi jika sekarang kamu merasa sering kacau dengan hidup yang serba cepat dan terburu-buru, mungkin inilah waktu yang tepat untuk memilih hidup dengan gaya melambat? Dengan gaya slow living, kamu bisa belajar untuk menyadari apa yang sedang dilakukan sehigga bisa menghindari kekacauan yang terjadi. Caranya supaya tidak terburu-buru adalah dengan :
- Prioritaskan yang penting
- Lakukan secara bertahap
- Lihat kembali tujuanmu

Kita jahat karena untuk mencapai standar orang lain, kita justru mengabaikan apa yang dibutuhkan diri sendiri. Kita rela di dera tekanan yang berat demi hal-hal yang terus menuntut kita berlari cepat. Padahal kita hidup di lintasan sendiri tetapi seolah melaju di jalan tol yang punya batas kecepatan minimum. Hidup dengan cara melambat bisa jadi salah satu solusi untuk hidup yang serba grusa grusu. Melambat bukan berarti bergerak pelann seperti siput. Kita hanya perlu mengatur kecepatan yang ramah untuk diri sendiri dan terlepas dari membanding-bandingkan dengan hidup orang lain.
Melalui slow living kita diajak untuk menjalai hidup dengan penuh kesadaran. Kita sadar dengan situasi yang dihadapi, sadar terhadap akivitas yang dilakukan, sadar dengan apa yang kita butuhkan dan berusaha ada pada waktu saat ini untuk menjalankan segalanya dengan sebaik mungkin. Tenang, tidak perlu terburu-buru. Tidak ada yang mengharuskanmu untuk langsung berubah saat ini. Pikirkan lagi dan kamu bisa memulainya dengan hal-hal sederhana seperti :
- Membuat to-do-list
- Bangun pagi lebih awal
- Memasak makanan sendiri
- Mengurangi penggunaan gawai dan media sosial
- Mendekatkan diri pada alam
- Praktik mindfulness
- Latihan hening dan relaksasi
- Menyadari adanya dikotomi kendali
- Berjuang semampunya dan sesekali tidak perlu berusaha
- Belajar merasa cukup
- Berlatih kemalangan
- Berfokus pada dunia sendiri
- Bersyukur
selamat bertumbuh!


