Banyak orang tua merasa frustasi menghadapi perilaku anak yang selalu melawan, sering bertengkar dengan saudara, tidak mau diatur dan perilaku tak ‘manis’ lainnya. Apakah ayah bunda salah satunya?. Sebelum ayah-bunda stres atau menyalahkan anak atas perilaku mereka ada baiknya kalau kita instrospeksi, jangan-jangan perilaku mereka terimbas dari pola asuh yang kita terapkan selama ini. Kita sering lupa kalau anak-anak mudah terpengaruh oleh perilaku orang-orang di sekitarnya dan juga merupakan representasi orang tua mereka.
Mengapa Anak Saya Suka Melawan dan Susah Diatur?
Penulis : Ayah Edy
Penulis Pendamping : Sherly Puspita
Terbit : Oktober, 2023
Penerbit : Noura Books
ISBN : 978-623-242-414-2
Dalam buku ini ada 37 kebiasaan orang tua yang menyebabkan perilaku buruk pada anaknya, disini akan saya tulis beberapa contoh saja yaitu :

- Menyuruh Anak Tanpa Memberi Teladan
Anak-anak belajar dengan melihat teladan kita, bukan hanya mendengar apa yang kita katakan. Anak meniru tindakan dan kebiasaan kita. Apalagi anak zaman sekarang yang kritis dan berani mempertanyakan segalanya. Daripada hanya memberi nasihat panjang lebar, berikanlah teladan yang baik. Rasanya memang tidak adil kalau kita menuntut anak berubah sementara kita sendiri tidak mau berubah. Padahal kalau orang tua mau berubah yakinlah kalau anak akan lebih mudah mengikuti.
- Membiarkan Anak ‘diasuh’ oleh Gadget
Saat ini kita hidup di era digital. Sudah sewajarnya anak ‘akrab’ dengan gadget. Jangan sampai mereka gagap teknologi dan ketinggalan zaman. Hal apa saja yang bisa kita lakukan sebagai orang tua :
a. Mendampingi anak memilih konten yang baik dan dibutuhkan
Gadget dan TV sama-sama punya sisi baik dan buruk. Namun gadget punya kelebihan yang tidak dimiliki oleh TV yakni konsumen punya keleluasaan amat besar untuk memilih konten. Tugas kita adalah mendampingi anak memilih konten karena baik atau buruknya dampak gadget tentu tergantung jenis konten yang rutin mereka konsumsi.
b. Membimbing anak memproduksi konten positif
c. Mengenalkan anak bahwa gadget bisa menjadi sumber penghasilan
Gadget bisa membuat orang mengeluarkan uang tetapi juga bisa mendatangkan penghasilan. Setelah era gadget dan medsos banyak anak muda menjadi Youtuber atau Influencer karena profesi ini menjanjikan. Namun mendapat penghasilan dari gadget tentu juga bisa dengan banyak cara lain. Salah satunya dengan berjualan. Anak yang menjual pernak-pernik atau gambar buatannya di medsos. Bahkan ada juga orang tua yang mencetak gambar anaknya di atas tas, selendang dan kaus sehingga malah meningkatkan nilai dan fungsi karya si anak. Ajari anak kita cara membuat konten yang menghasilkan manfaat finansial bagi dirinya.
d. Main game bersama anak
Sebagian orang tua khawatir dan melarang anaknya bermain game. Sebagian lagi pasrah dengan berkata ‘sudahlah daripada dilarang nanti malah sembunyi-sembunyi’. Sebagian lagi membebaskan anaknya bermain sepuasnya.
e. Buat aturan dan kesepakatan seputar gadget
Kita mengizinkan anak memakai gadget tetapi aturan harus tetap ditegakkan. Sepakati dengan anak apa saja aturan yang perlu dia jalankan. Sesuaikan dengan kebutuhan dan usianya.
f. Jangan mau jadi orangtua gaptek
Teknologi digital berkembang dan berubah sangat cepat. Sering kali kita kewalahan tetapi sebagai orang tua mau tak mau kita harus belajar. Terutama sebagai orang tua harus mengerti tentang situs, game dan aplikasi yang sering digunakan oleh anak. Apa perlunya menyejajarkan langkah kaki kita dengan derap anak di dunia maya? tentu agar kita bisa selalu menjadi kawan berpikir dan rekan diskusi mereka. Inilah dunia anak kita sekarang. Jadi kita harus paham.

- Suka Membandingkan
Tidak ada seorang pun di dunia ini yang suka dibanding-bandingkan. Entah dibandingkan secara fisik, sifat, selera apalgi prestasi. Anehnya justru banyak orang tua yang sering melakukan hal ini kepada anaknya. Misalnya membandingkan anak yang malas dengan yang rajin, anak yang rapi dan yang berantakan. Apabila kita mempertahankan kebiasaan ini anak akan semakin tidak menyukai orang tuanya. Dan yang paling berbahaya adalah kita telah menanmkan konsep gagal pada dirinya. Inilah penyebab terbesar orang gagal dalam kehidupan yakni karena orang tuanya sering membanding-bandingkan anaknya.
Bagaimana ayah-bunda?
Mari kita berubah dan terus belajar!
selamat membaca~


