Halo sobat lapar yang kalau ditanya “mau makan apa” jawabnya “terserah”! Jujurly, kemarin itu aku lagi nggak ada angin nggak ada hujan, tiba-tiba kayak kesambet jin “penasaran”. Bukan ngidam sih, tapi kayak ada bisikan ghaib yang bilang, “Fur, main ke Salatiga yuk, ada ramen enak loh.” Sebagai manusia yang lemah iman kalau soal perut, apalagi kalau denger kata “enak”, pertahanan dietku langsung runtuh seketika. Tanpa pikir panjang (dan tanpa hitung-hitung bensin), aku langsung gas tipis-tipis dari kota asalku menuju ke Salatiga. Tujuannya cuma satu: membuktikan kehebohan UNO Ramen Salatiga. Kira-kira effort perjalanan jauh ini bakal berbuah manis atau malah zonk?…
-
-
Pembuka: Selamat Pagi, Para Pemburu Kuliner! Halo, Sobat Kuliner! Apa kabar perut kalian pagi ini? Masih aman atau cacing-cacing di dalamnya sudah mulai demo masak minta jatah sarapan? Nah, kalau kebetulan kamu lagi melintas di Ambarawa, jangan cuma main di jalan protokol aja. Kali ini aku mau ajak kalian sedikit berpetualang alias blusukan buat nemuin sarapan yang underrated tapi rasanya juara. Namanya Soto Kwali Estoe Echo. Tempat ini bukan tipe restoran mentereng di pinggir jalan raya besar, tapi justru di situ seninya! Kita harus masuk gang dulu buat nemuin “harta karun” berupa soto panas yang kuahnya mengepul. Penasaran kan? Yuk,…
-
Halo, Bestie! Siapa di sini yang isi kepalanya udah full memory sama kerjaan atau tugas kuliah yang revisinya nggak kelar-kelar? Kalau kamu ngangguk, fix kita satu server! Kemarin, aku memutuskan buat “kabur” sebentar dari hiruk-pikuk kota demi mencari asupan oksigen murni dan tentu saja… makanan enak! Destinasi random tapi berfaedah kali ini jatuh ke daerah Bandungan, Semarang. Niat hati cuma mau cari angin, eh malah nemu spot kuliner yang asyik banget. Namanya Tahu Serasi Ibu Kotijah. Jujurly, awalnya aku kira ini cuma tempat makan tahu biasa. Tapi ternyata? Beuh, baca terus sampai bawah ya, biar nggak penasaran! Akses? Gampang Banget,…
-
“Gimana mau maju pendidikan di Indonesia kalau lembaga pendidikannya aja dijadikan bahan perdagangan?”Begitu kata seorang teman dalam obrolan santai kami di sore hari. Kalimatnya singkat, tapi menohok. Aku sempat terdiam mendengar ucapannya. Di satu sisi, aku tahu maksudnya: banyak lembaga pendidikan sekarang yang rasanya lebih fokus ke bisnis daripada misi mendidik. Di sisi lain, aku juga paham perasaan para orang tua yang ingin memberikan pendidikan terbaik untuk anak-anak mereka — meskipun harus merogoh kantong dalam-dalam. Tapi, bukankah ironis kalau pendidikan — sesuatu yang seharusnya menjadi jalan untuk mencerdaskan bangsa — justru jadi ajang jual-beli gengsi? Ketika Sekolah Jadi Etalase Gengsi…
-
Ada masa ketika idealisme terasa seperti cahaya paling terang dalam perjalanan karier kita.Kita berangkat dengan semangat: ingin membuat perubahan, ingin memberdayakan masyarakat, ingin memastikan setiap program benar-benar berdampak. Begitu aku pertama kali masuk ke Puskesmas, aku pun datang dengan semangat yang sama.Penuh ide, penuh harapan, dan yakin — kalau aku berusaha sungguh-sungguh, semuanya akan berjalan sesuai rencana. Tapi kenyataan di lapangan… sering kali punya cara sendiri untuk menguji niat baik kita. Antara Idealisme dan Realita Bekerja di dunia kesehatan masyarakat itu seperti berdiri di antara dua dunia: dunia teori yang ideal dan dunia nyata yang kompleks. Kita tahu bagaimana seharusnya…
-
Pernah nggak sih kamu lagi sakit terus bingung:“Enaknya ke Puskesmas atau klinik aja ya?” Sekilas dua-duanya mirip — sama-sama ada dokter, ruang tunggu, dan obat. Tapi kalau kamu perhatiin lebih dalam, ternyata Puskesmas dan klinik itu beda banget dari segi tujuan, pelayanan, dan semangat kerjanya. Sebagai orang yang tiap hari hidup di dunia Puskesmas, aku mau jelasin bedanya dengan gaya santai, biar kamu bisa lebih paham dan nggak salah kaprah. Tujuan Utama: Klinik Fokus ke Individu, Puskesmas Fokus ke Masyarakat Ini perbedaan paling mendasar.Klinik tujuannya memberikan pelayanan kuratif (pengobatan) dan rehabilitatif — alias fokus pada penyembuhan per individu.Puskesmas, selain ngasih…


