Hari itu sebenarnya biasa saja.
Bel istirahat bunyi, kantin rame kayak konser gratis, dan aku cuma punya satu tujuan mulia: beli mie goreng sebelum habis.
Masalahnya, kantin yang katanya “baru diperluas” itu tetap terasa kayak halte bus jam pulang kerja. Semua meja penuh. Aku udah bawa piring mie goreng di tangan, tapi nggak ada kursi kosong sama sekali.
Setelah muter dua kali, aku lihat ada satu kursi kosong. Tanpa mikir panjang, aku langsung duduk.
Tiga detik kemudian aku sadar.
Aku duduk semeja dengan anak-anak jenius.
Yes, mereka. Kelas sebelah, isinya pemenang lomba matematika, fisika, sampai olimpiade entah apa. Di tengah-tengahnya, ada satu wajah yang udah sering kulihat di mading sekolah—Raka Aditya. Juara segala lomba, sering difoto sambil megang piala, pokoknya paket lengkap calon menantu dambaan para guru.
Sementara aku?
Naya. Anak kelas biasa. Prestasi? Jangan ditanya. Kalau kantin ada lomba pelanggan setia, aku pasti menang.
Awalnya kupikir mereka bakal ngobrol hal-hal normal kayak gosip artis atau drakor. Tapi ternyata?
“Relativitas itu kayak puisi sih, cuma medianya angka.”
“Iya, dan persamaan Maxwell tuh sebenarnya seni logika kalau lo bisa nikmatin.”
Aku berhenti mengaduk mie gorengku. Dalam hati cuma bisa istighfar: Ya Allah Subhanallah, ini meja atau forum ilmuwan?
Di meja lain orang ribut soal diskon boba, di sini orang debat tentang teori fisika.
Raka sempat melirik ke arahku, lalu senyum tipis.
“Kamu dari kelas sebelah, kan?” tanyanya ringan.
Aku hampir keselek mie.
“I-iya…” jawabku pendek, sambil berharap jangan sampai ditanya, “Menurutmu gimana teori kuantum?”
Itulah pertemuan pertamaku dengan Raka.
Bukan di kelas, bukan di perpustakaan, tapi di kantin—semeja dengan semangkuk mie goreng dan segeng anak jenius yang bahasannya bikin aku merasa otakku mentok di limit x→0.



