Brian Krishna Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati

Review Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati: Niat Hati Mau Kenyang, Malah Kena Mental

Jujurly, pertama kali lihat cover buku ini di etalase e-commerce, otakku langsung merespons dengan satu sinyal primitif: LAPAR.

Gimana enggak? Judulnya “Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati”.

Ekspektasiku sederhana. Aku kira ini adalah novel kuliner, atau seenggaknya panduan spiritual menemukan mie ayam paling enak se-Jabodetabek sebelum ajal menjemput. Tapi, pas aku lihat nama penulisnya… Brian Khrisna.

Ah, sial. Aku tahu orang ini. Ini adalah “chef” yang biasa masak perasaan orang sampai gosong. Penulis yang terkenal dengan Merayakan Kehilangan. Aku langsung sadar, buku ini nggak akan bikin perut kenyang, tapi kemungkinan besar bakal bikin hatiku yang “kenyang” (baca: eneg) sama drama kehidupan.

Brian Krishna Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati

Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati

Karya : Brian Krishna

Editor : Trian Lesmana

Terbit : Januari, 2025

Penerbit : PT. Gramedia Widiasarana

ISBN : 978-602-05-3132-8

Sebelum kita bahas rasa ceritanya, coba kalian baca dulu sinopsis resminya yang bikin aku terdiam sejenak. Ternyata, “Mie Ayam” di sini bukan sekadar makanan, tapi mungkin… pertahanan terakhir?

Begini gambaran ceritanya:

“Seperti malam-malam lain, aku pulang selepas lembur. Orang-orang di kantor yang sudah menikah, mereka akan pulang ke keluarganya masing-masing. Sementara aku tidak punya siapa-siapa ini, sekarang masih duduk sendirian di parkiran mobil yang sudah lengang, bersama sebotol bir, rokok murah dan sepotong kue ulang tahunku sendiri yang kubeli dari toko manisan dekat kantor. Aku takut kalau ternyata selama ini aku tidak pernah berhasil menjalani hidup seperti sebagaimana seharusnya. Dikepalaku sekarang, pertanyaan ini semakin lama semakin membesar. Pantaskah hidup ini kulanjutkan? Aku berdiri menatap ke langit malam. Kini tekadku sudah bulat. Aku akan bunuh diri 24 jam dari sekarang.”

Gimana? Kaget nggak? Dari judul mie ayam, tiba-tiba masuk ke parkiran sepi, kue ulang tahun yang dimakan sendiri, dan countdown menuju bunuh diri. Dark banget, kan?

Di sinilah letak jeniusnya (dan ngeselinnya) Brian Khrisna. Dia mengajak kita mengikuti 24 jam terakhir tokoh utama ini. Apakah dia jadi mengakhiri hidup? Atau seporsi mie ayam bisa mengubah segalanya?

Brian Krishna Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati

Menu Utama: Komedi Gelap Berbalut Sambal Realita

Meskipun sinopsisnya terdengar depresif, Brian Khrisna tetaplah Brian Khrisna. Dia pinter banget nge-prank pembaca. Ceritanya nggak melulu nangis-nangis di pojokan. Justru, perjalanan menuju “rencana akhir” itu dipenuhi kejadian-kejadian konyol.

Gayanya yang storytelling-nya asyik, bahasanya tongkrongan banget, dan premis-premis ceritanya seringkali absurd. Rasanya kayak lagi makan mie ayam yang kamu kira manis, ternyata abangnya nyemplungin 10 sendok sambal setan. Tiba-tiba pedas. Tiba-tiba perih. Tiba-tiba ketawa.

Buku ini membahas hal-hal yang sebenernya sering kita alami:

  • Rasa kesepian di tengah keramaian ibu kota.

  • Perasaan gagal saat melihat teman lain “lebih sukses”.

  • Dan perenungan eksistensial, “Sebenernya gue hidup buat apa sih?”

Ada momen di mana aku lagi ketawa baca satu paragraf karena dialognya yang receh, eh di paragraf berikutnya langsung diam, mandang tembok, terus ngebatin, “Wah, ini aku banget. Kurang ajar si Brian.”

Kelebihan Buku Ini: Nggak Pake Ceramah

Yang aku suka dari Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati adalah dia nggak berusaha jadi motivator. Brian nggak nulis dengan gaya, “Ayo semangat! Hidup itu indah, jangan bunuh diri!”

Enggak. Dia nulis dengan gaya teman kamu yang lagi mabuk mie instan jam 2 pagi: “Hidup emang capek, Bro. Kita semua gagal kok. Tapi mie ayam di depan komplek masih enak, sayang kalau ditinggal mati sekarang.”

Validasi emosi inilah yang bikin bukunya page-turner banget. Kamu nggak merasa digurui, tapi merasa ditemani. Ditemani oleh seseorang yang sama-sama kacau, tapi bisa menertawakan kekacauan itu.

Brian Krishna Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati

Kesimpulan: Wajib Pesan (Baca) atau Skip?

Kalau kamu lagi di fase:

  1. Butuh hiburan tapi yang relate sama kerasnya hidup orang dewasa.

  2. Pengen bacaan yang emosional tapi nggak cengeng.

  3. Butuh alasan sederhana untuk tetap bertahan hidup hari ini (spoiler: alasannya bisa sesederhana makanan enak).

Maka, Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati adalah hidangan yang pas. Rasanya gurih, pedas, ada manis-manisnya dikit, dan meninggalkan aftertaste yang bikin kamu mikir, “Ah, hidup nggak buruk-buruk amat kok, selama masih ada mie ayam.”

Rating Aku: 4.5/5 Ceker Ayam  (Setengah poin dikurangin karena aku jadi baper dan laper secara bersamaan).

Gimana? Udah siap mental (dan perut) buat baca buku ini? Atau kalian punya pengalaman nemuin “mie ayam” (hal kecil penyelamat hidup) versi kalian sendiri? Coba cerita di kolom komentar, ya! Mari kita rayakan hal-hal kecil yang bikin kita tetap hidup.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *