ernah nggak sih kamu merasa sekolah itu kadang terlalu “seragam”? Semua anak harus duduk rapi, mengerjakan hal yang sama, di jam yang sama, dengan cara yang sama. Padahal, setiap anak punya keunikan masing-masing. Ada yang cepat tangkap di matematika, ada yang lebih berbinar kalau ketemu seni, bahkan ada yang baru “nyala” kalau diajak praktik langsung.
Nah, bayangkan kalau rumah kita bisa jadi sekolah yang fleksibel, menyenangkan, sekaligus relevan dengan kehidupan sehari-hari. Itulah inti pesan dari buku Sekolah Bernama Rumah karya Rifky Mahruly dan Suri Kusuma Dewi.
Sekolah Bernama Rumah (Semua Bisa Menyusun Kurikulum Berbasis Keluarga)
Karya : Rifky Mahruly & Suri Kusuma Dewi
Terbit : Maret, 2025
Penerbit : Penerbit Kolofon
ISBN : 978-623-10-7407-2

Buku ini mengajak kita menyadari bahwa pendidikan sejatinya tidak melulu soal gedung sekolah, tapi bisa dimulai dari tempat yang paling dekat: rumah.
Isi & Gagasan Utama
- Rumah Sebagai Sekolah Pertama
Orang tua adalah guru pertama dan rumah adalah ruang belajar utama. Kebiasaan, nilai, bahkan cara anak melihat dunia—semuanya berawal dari rumah. - Kurikulum Keluarga yang Fleksibel
Nggak perlu bingung sama kata “kurikulum”. Di sini, penulis mengajak orang tua menyusun kurikulum sesuai kebutuhan anak: minat, bakat, dan ritme belajar mereka. - Belajar Itu Sehari-hari
Penulis menegaskan bahwa belajar tidak hanya soal buku pelajaran. Masak bareng bisa jadi pelajaran sains, jalan ke pasar jadi kelas ekonomi, ngobrol dengan tetangga adalah pembelajaran sosial. - Orang Tua sebagai Fasilitator
Orang tua tidak dituntut jadi “super guru”. Cukup menjadi fasilitator: menemani, menyediakan sumber belajar, mengarahkan, sekaligus belajar bareng anak. - Pendidikan yang Utuh
Anak-anak tidak hanya butuh akademis, tapi juga kecakapan hidup (life skills), kesehatan mental, dan kepekaan sosial. Semua itu bisa dilatih lewat interaksi sehari-hari di rumah.
Kenapa Buku Ini Relevan?
Di era serba cepat dan digital ini, pendidikan formal kadang ketinggalan dalam menyiapkan anak menghadapi realitas hidup. Anak bisa jago matematika, tapi bingung mengatur emosi. Bisa hafal teori, tapi canggung bersosialisasi.
Buku ini menawarkan solusi: pendidikan berbasis keluarga yang lebih personal, manusiawi, dan aplikatif. Cocok untuk:
-
Orang tua yang ingin mencoba homeschooling,
-
Keluarga yang ingin lebih aktif mendampingi anak,
-
Siapa pun yang percaya pendidikan itu luas, bukan hanya soal rapor dan ujian.

Kelebihan Buku
-
Bahasanya sederhana & mudah dipahami, nggak bikin minder meskipun pembaca bukan berlatar belakang pendidikan.
-
Praktis & aplikatif, banyak contoh kegiatan sehari-hari yang bisa langsung dicoba.
-
Inspiratif, bikin orang tua lebih percaya diri bahwa mereka bisa jadi pendidik utama untuk anaknya.
Hal yang Bisa Jadi Catatan
-
Untuk pembaca yang butuh “teknis detail” homeschooling, buku ini lebih ke arah filosofis dan inspiratif daripada teknis mendalam. Jadi mungkin perlu sumber tambahan.
-
Ada bagian yang lebih mengalir seperti refleksi, bukan panduan step by step.
Membaca buku ini rasanya kayak diingatkan lagi bahwa anak bukan “produk pabrik” yang hasilnya harus sama. Justru keberagaman itu yang bikin setiap anak istimewa. Dan sebagai orang tua (atau calon orang tua), kita bisa memulainya dari hal kecil: mendengar anak, mengamati kebutuhannya, lalu menciptakan pengalaman belajar yang bermakna di rumah.
Pada akhirnya, Sekolah Bernama Rumah bukan sekadar buku tentang homeschooling. Ia adalah ajakan untuk mengembalikan pendidikan ke esensinya: membentuk manusia seutuhnya, bukan sekadar siswa yang pintar di atas kertas.

Rumah, dengan segala kesederhanaannya, bisa jadi sekolah terbaik bila ada cinta, kesadaran, dan komitmen dari orang tua. Jadi, kalau kamu lagi mencari inspirasi untuk mendampingi anak dengan cara yang lebih fleksibel, dekat, dan penuh makna—buku ini wajib ada di daftar bacaanmu.
Yuk, baca buku Sekolah Bernama Rumah dan temukan cara membuat rumahmu jadi ruang belajar paling seru untuk anak-anakmu!
Punya teman yang lagi galau soal pendidikan anak? Share ulasan ini ke mereka. Siapa tahu buku ini bisa jadi inspirasi untuk perjalanan belajar keluarga mereka.



