Seorang anak membutuhkan kehangatan dan penerimaan, sentuhan fisik, kehadiran, cinta dan batasannya, pengertian, bermain dengan orang-orang dari segala usia serta pengalaman yang menenangkan dan banyak perhatian serta waktu kita. Sebagai orang tua merupakan hal yang lumrah mengingat kenangan masa kecil ketika kita sebagai orangtua merasa lelah menghadapi anak. Jika kita merasa ingin jauh dari anak-anak setiap jam bahkan setiap hari kemungkinan yang kita butuhkan adalah rehat dari perasaan yang mereka picu dalam diri kita.
The Book You Wish Your Parents Had Read (Orang Tuamu Wajib Membaca Buku Ini dan Anakmu akan Senang Jika Kamu Melakukannya)
Penulis : Philippa Perry
Penerjemah : Leinovai
Terbit : Oktober, 2022
Penerbit : PT. Rene Turos Indonesia
ISBN : 978-623-6083-39-0

Tentu saja tidak masalah jika sesekali meminta bantuan seorang babysitter dan kita memanfaatkannya untuk menikmati hobi kita. Namun berhati-hatilah jangan sampai perasaan ingin rehat itu menjadi kebiasaan. Kita dibentuk menjadi dewasa dari pengalaman masa kecil kita-inilah landasan manusia berkembang tetapi melepaskannya bukanlah perkara mudah. Sulit rasanya menghentikan kritik batin dalam diri sendiri tetapi ada sesuatu yang bisa kita lakukan contoh kritik batin ‘aku terlalu gemuk, aku tidak berguna’. Kita bisa menyadarinya ketika itu terjadi dan memberi pujian pada diri sendiri karena telah menyadarinya.
Label ‘orang tua yang baik/buruk’ tidaklah membantu karena keduanya berkonotasi ekstrem. Label-label seperti ‘ibu yang baik’, ‘ayah yang buruk’ atau sebaliknya adalah salah satu faktor yang membuat kita defensif dalam hal apapun yang mungkin kita menyikapinya secara keliru. Mengakibatkan kita salah memahami anak kita atau mengabaikan kebutuhan emosionalnya. Mari kita buang saja aktribut ‘baik’ dan ‘buruk’ sebagai orang tua. Kita seharusnya tidak menghakimi diri sendiri, kita pun seharusnya tidak menghakimi anak-anak. Memang memuaskan menempatkan sesuatu dalam sebuah kotak, memberinya label lalu melupakannya. Namun itu tidak baik bagi diri kita dan jelas tidak baik juga bagi orang di dalam kotak itu. Tidak ada gunanya kita menilai seorang anak ‘baik atau buruk’ atau sebagai apa pun itu. Karena anak akan sulit untuk berkembang bila dibatasi dengan label ‘si pendiam’, ‘si berisik’ dan sebagainya.
Manusia tumbuh dan berkembang sepanjang waktu terutama anak-anak. Jauh lebih baik jika kita menggambarkan apa yang kita lihat dan menyampaikan apa yang kita hargai daripada menghakimi. Jadi katakanlah ‘aku terkesan dengan idemu dalam lukisan ini’. Aku senang melihat rumah ini tampak seperti sedang tersenyum, membuatku merasa bahagia’ bukan berkomentar ‘lukisan yang indah’, ‘jangan cemas dengan pola pengasuhanmu. kau adalah ibu terbaik di dunia dan satu-satunya ibu yang kuinginkan’.

Mengabaikan perasaan anak berpotensi membahayakan masa depan kesehatan mentalnya. Jika seorang anak diminya untuk tidak merasakan apa yang dirasakannya, dibiarkan menangis hingga tertidur atau ditinggalkan dengan kemarahannya, alih-alih dipahami dan dihibur maka kapasitas untuk bertoleransi dengan emosi yang tidak menyenangkan atau menyakitkan menjadi semakin kecil. Apabila anak selalu ditenangkan oleh orang tuanya perasaan apa pun anak akan merasa lebih optimistis. Dengan demikian anak tidak terlalu rentan terhadap depresi atau kecemasan di masa yang akan datang.
Tidak ada jaminan bahwa masa kecil yang buruk akan menimbulkan masalah kesehatan mental dan masa kecil yang ideal akan membuat seseorang terhindar dari gangguan mental. Karena itulah ada hal-hal yang bisa kita lakukan untuk memberikan peluang terbaik bagi anak untuk meminimalisir potensi masalah kesehatan mental. Kita bertanggung jawab pada anak kita dan diri kita sendiri untuk mengambil langkah yang menghasilkan pikiran dan tubuh yang sehat.
Selamat bertumbuh !
selamat membaca ~~


