Dalam sehari, kita punya waktu yang sama banyaknya. Namun mengapa ada anak 10 tahun telah berhasil menghafal al-Qur’an, memiliki segudang karya hingga menulis puluhan buku? sedangkan kita sehari-hari seolah hanya disibukkan dengan sesuatu yang tidak pasti?. Waktu kita sama mengapa produktivitas kita berbeda? Apakah mereka memang punya bakat dan keahlian khusus atau hanya masalah manajemen waktu saja? Lantas, bagaimana kita bisa menjadi muslim yang produktif?

Building Islamic Habit
Penulis : Muyassaroh
Terbit : Agustus, 2024
Penerbit : Rene Islam
ISBN : 978-623-6083-94-9
Prinsip dari membangun habit adalah melakukan repetisi. Semakin sering diulang, habit tersebut akan semakin melekat pada pikiran kita. Dengan begitu kita dapat mengerjakan habit positif secara otomatis di kemudian hari. Karena sudah terbiasa, hal-hal yang dulu dirasa jadi beban bisa dikerjakan dengan lebih mudah. Proses untuk membiasakan diri pada hal-hal yang positif tentu bukan perjalanan instan yang dapat ditempuh dalam semalam. Kita harus bersabar setelah memulainya. Melakukan repetisi dan pelan-pelan mulai menggantikan kebiasaan negatif di masa lalu dengan hal-hal positif di masa sekarang. Jika konsisten, dampaknya tidak hanya akan kita rasakan sendiri tetapi juga dapat memberikan manfaat positif bagi lingkungan sekitar kita.
Menghargai waktu berarti menjaga diri kita dari kelalaian. Waktu merupakan modal yang Allah berikan kepada manusia didunia supaya dapat melakukan hal-hal yang berfaedah. Kita boleh bekerja keras supaya bisa menjadi orang yang hebat, kaya raya dan berpendidikan tinggi tetapi jangan lupa untuk melaksanakan shalat, membaca Al-Qur’an dan bersedekah. Waktu merupakan nikmat pokok yang amat berharga tetapi sayangnya sering kali luput kita syukuri. Waktu kita terbatas. Selama di dunia kita punya jatah waktu masing-masin. Jika masih ada kesempatan, jangan pernah mengambil keputusan yang buruk.

Setiap orang diberi jumlah waktu yang sama yakni 24 jam sehari tetapi kenapa pencapaian kita berbeda? Jika waktu kita sama jumlahnya seharusnya kita bisa melakukan hal yang sama baiknya. Berikut adalah manajemen waktu ala Rasulullah :
- Belajar disiplin dengan shalat lima waktu
- Tinggalkan aktivitas yang sia-sia
- Hilangkan kebiasaan menunda-nunda
- Manfaatkan waktu sebaik mungkin
- Belajar istiqomah
Membangun habit ibaratnya kereta yang meninggalkan stasiun. Sebelum kereta bisa melintas kita perlu membuat landasan yang kuat dan meletakkan rel kereta dengan jalur yang tepat. Kita akan memastikan bahwa kereta dapat melintas melewati jalur dengan aman. Membangun habit positif mesti dilakukan bertahap dan sesuai kemampuan. Supaya kebiasaan tersebut bisa dibentuk dengan cara lebih mudah, mulailah menjauhkan hal-hal yang dapat membuat kita lalai dan malas. Tidak hanya butuh niat, membangun habit yang positif dan islami juga butuh tindakan. Aksi-aksi yang dapat kita lakukan untuk berhenti dari kebiasaan buruk adalah :
- Identifikasi apa saja kelemahan kita
- Temukan penggantinya
- Bertemanlah dengan orang-orang yang baik
- Memohon kepada Allah supaya dimudahkan untuk istiqamah dalam kebaikan
- Banyaklah memohon ampun kepada Allah
selamat memperbaiki diri!


