Orang boleh berbeda dalam banyak hal tapi bakal bersepakat dalam satu hal: ingin bahagia. Sayangnya makna bahagia itu tidak tunggal dan sama bagi semua orang. Bahagia bagi yang satu boleh jadi bukan bahagia bagi yang lain. Bahagia itu ternyata macam-macam dan bisa saling bertentangan. Maka layak sekali kalau orang bertanya: apa sih bahagia itu sebenarnya?
Empat orang bijak-Plato, al-Farabi, al-Ghazali dan Ki Ageng Suryomentaran-menawarkan konsep kebahagiaan, berikut cara-cara mencapainya. Meski masing-masing mengambil pendekatan berbeda, ada beberapa kesamaan yang mencolok: bahwa orang mesti mengenal diri sendiri sebagai titik berangkat dan orang menemukan diri sendiri sebagai titik tujuan. Mustahil orang mencapai kebahagiaan kalau tidak tahu siapa dirinya dan apa makna bahagia bagi dirinya.
Filsafat Kebahagiaan: Dari Plato, via Al-Farabi dan Al-Ghazali sampai Ki Ageng Suryomentaran
Penulis : Fahruddin Faiz
Terbit : November, 2023
Penerbit : PT. Mizan Pustaka
ISBN : 978-602-441-332-3
Kebahagiaan merupakan unsur kehidupan yang diidamkan manusia baik secara esensial maupun eksistensial. Tidak ada manusia yang tidak menginginkan kebahagiaan. Kebahagiaan adalah sesuatu yang dipandang bernilai, sangat bernilai bahkan paling bernilai oleh manusia dalam kehidupannya. Itulah mengapa menurut beberapa filsuf kebahagiaan dipandang sebagai tujuan dari tujuan atau puncak dari tujuan hidup manusia. Saat sudah mencapai kebahagiaan, seseorang diasumsikan tidak menginginkan apa-apa lagi.
Kebahagiaan menurut :

PLATO
- Kita akan bahagia karena tahu batas. Jadi bahagia justru terletak ketika kita tahu batas; kapan harus berhenti, kapan harus jalan.
- Orang yang bisa mengoptimalkan fungsi-fungsi jiwanya. Menurut Plato fungsi jiwa optimal kalau dia adil dan harmonis atau tidak ada konflik, misalnya akal melarangmu melakukan hal jelek tapi kita dikendalikan oleh nafsu sehingga yang jelek pun diterjang. Itu berarti tidak harmonis dan tidak adil, misalnya seharusnya kita makan tiga kali sehari tapi meskipun punya uang kita makan satu kali saja karena ingin menyiksa diri. Itu namanya tidak adil.
Kalau jiwa sudah harmonis, sudah adil dan sudah beres, kita bahagia. Kalau sudah bahagia kita akan mencapaian eudaimon. Maka filsafatnya kebahagiaan versi Plato disebut eudaimania. Daimon itu apa? Intelek, akal atau sesuatu yang bercorak ketuhanan. Kita bahagia kalau dekat dengan Allah.
AL-FARABI

Menurut al-Farabi untuk mencapai kebahagiaan puncak adalah dengan
- Menguasai Pengetahuan
Semakin luas wawasan seseorang semakin besar peluang dia untuk bahagia. Sebaliknya semakin sempit wawasan seseorang semakin kecil kemungkinan dia untuk bahagia. Pengetahuan apa pun yang kita dapatkan kalau kita ingin bahagia orientasinya harus ke Tuhan.
- Berpikir
Berpikir merupakan upaya menemukan hal-hal yang penting dan baik untuk hidup kita. Menurut al-Farabi berpikirlah hanya tentang yang baik-baik dan utama-utama. Jangan berpikir yang remeh-remeh, yang tak berguna, yang tidak penting-penting. Biasanya di situ sumber kita tidak bahagia.
- Moral
Keutamaan berpikir harus diimbangi dengan keutamaan. Ilmu harus diimbangi dengan akhlak.
- Praktis-Kreatif
Bahagia tidak semata-mata moralnya bagus, pemikirannya bagus dan teorinya benar tetapi juga praksisnya kreatif. Manusia merasa bermakna atau merasa eksis kalau dia bekerja untuk memproduksi sesuatu.
Jadi kalau orangnya cerdas, cara berpikirnya bagus dan moralnya bagus, karyanya pasti kontributif atau utama. Orang semacam ini bahagia dan bisa membahagiakan orang lain. Jika empat kekuatan ini dapat diterapkan atau dijalankan, itulah yang membuat orang bahagia.
AL-GHAZALI

Menurut al-Ghazali, kunci bahagia itu :
- Kenali Diri
Sesiapa mengenal dirinya, dialah yang akan merasakan kebahagiaan sejati. Mungkin selama ini kita tidak bahagia karena kita tidak kenal siapa diri kita.
- Kenali Allah/Mengenal Allah (Makrifatullah)
Kalau sudah sampai ilmunya di makrifatullah semua pasti akan tertib. Makrifatullah dicapai tidak semata-mata dengan baca buku atau belajar teorinya. Makrifatullah harus dijalani dengan laku (praktik). Makrifatullah bisa kita peroleh kalau kita sudah dekat dengan Allah. Dan untuk dekat dengan Allah harus ada laku/praktik tertentu yang kita jalani. Kalau orang sudah makrifat, otomatis semua urusan yang lain beres. Jadi kuasai amarah dan syahwat lewat ilmu.
- Kenal Dunia
Setelah mengenal diri dan mengenal Allah sekarang kita perlu mengenal dunia. Kalau tidak tahu ilmu dunia kita tidak bisa hidup bahagia karena kebahagiaan dunia berimbas pada kebahagiaan akhirat. Kalau di dunia kita tidak bahagia secara badaniah tidak bahagia maka di akhirat kelak juga tidak akan bahagia. Jadi, dunia menjadi jalan bagi kita untuk mencapai bahagia di akhirat. Jiwa harus beres, jasad harus beres, jasad kita jangan di paksa. Sebab badanmu itu amanat dari Allah.
Ki Ageng Suryomentaram

Menurut Ki Ageng Suryomentaram, bahagia itu :
- Sakbutuhe : sebenarnya kebutuhanmu itu berapa
- Sakperlune : apa saja yang betul-betul kita perlukan dalam hidup kita
- Sakcukupe : pas, tidak kurang dan tidak lebih, apa-apa takarannya harus pas
- Sakbenere : sesuai dan relevan untuk hidup kita
- Sakmesthine : sesuai dengan kepatutan dan keharusan
- Sakpenake : apa yang membuat kita nyaman
selamat menemukan kebahagiaan!


