[baca buku] Menjadi Manusia, Menjadi Hamba

Gaya hidup modern di samping menawarkan berbagai kenikmatan dan kemudahan hidup, kerap membuahkan dehumanisasi. Banyak manusia seolah kehilangan kemanusiaannya, kehilangan fitrahnya khususnya dimensi spiritual. Lalu seolah merespons fenomena itu, tak sedikit yang kemudian secara esktrem memilih ‘jalan spiritual’ sampai-sampai memancang visi lenyapnya diri dan tak lagi peduli dengan situasi duniawai. Tugas manusia sebagai khalifah pun jadi terabaikan.

Menjadi Manusia, Menjadi Hamba
Penulis : Fahruddin Faiz
Terbit : November, 2020
Penerbit : Noura Books
ISBN : 978-623-242-154-7

Manusia dimuliakan Allah di muka bumi ini dengan diciptakan dalam bentuk terbaik diantara semua makhluk lainnya. Allah memuliakan kita dengan segala fasilitas yang membuat kita berharga; seperti akal, pancaindra, intuisi, imajinasi dan seterusnya. Karena itu sungguh keterlaluan jika ada orang yang tidak bersyukur. Padahal Allah sudah memberi fasilitas dan kenikmatan yang sangat banyak, sudah memuliakan tapi masih saja mengeluh. Hakikat manusia jelas dia adalah makhluk. Dia tidak ada dengan sendirinya. Karena itu, jangan banyak bertingkah, tidak boleh sombong. Kita ini cuma ‘diadakan’ kemudian dimuliakan. Maka jangan melakukan apa pun yang bisa menjatuhkan kualitas kemanusiaan kita. Kita ini mulia, jangan sampai kita jatuh pada serendah-rendahnya makhluk. Kita ini diposisikan mulia oleh Allah.

Kita adalah wakil Allah, khalifah Allah di muka bumi. Maka sudah seharusnya kita memosisikan diri sebagai cermin Allah di muka bumi. Karena kita adalah wakilNya. Wakil itu punya tugas menjalankan posisi yang diwakili. Kendati kita menjadi wakilNya tapi jangan lantas kita merasa bisa naik level menjadi Tuhan. Manusia adalah satu-satunya makhluk yang bisa menolak jadi dirinya sendiri. Binatang tidak bisa begitu. Kucing misalnya ia tidak bisa menjadi bukan kucing. Ia harus jadi kucing dengan segala kekurangannya. Tapi manusia bisa saja tidak mau jadi dirinya sendiri. Dia bisa protes, bisa komplain terhadap eksistensinya hari ini.

Karena manusia itu serba terbatas maka banyak hal yang tidak mungkin bagi dia. Kita tidak mungkin bisa memaksakan tahun ini harus jadi presiden. Ketika kita ingin menikah dengan artis korea itu tidak mungkin terjadi-kecuali Allah memang sudah menjodohkan kita dengan dia. Dalam kondisi ini kalau kita hanya mengandalkan diri kita sendiri, kita akan putus asa. Manusia tidak bisa berbuat apa-apa tanpa bantuan yang di atas. Maka itu jalan kita satu-satunya untuk mengatasisegala ketidakberdayaan, ketidakpastian, keterbatasan, ketidakmungkinan adalah harus selalu tersambung dengan Tuhan. Kita harus selalu memohon kepadaNya yang menguasai segalanya.

Hidup ini ada modalnya, ada usahanya, ada hasilnya. Modalnya dari Allah, usahanya dari kita, hasilnya kembali kepada Allah lagi. Kita diberi modal akal. Dipakai berpikir atau tidak itu tergantung kita. Sedangkan hasil pikiran kita apa, Allah yang menentukan. Kita diberi modal akal, maka belajar atau tidak tergantung kepada kita tapi lulus atau tidak semuanya di tangan Allah. Hidup ini permainan maka bermainlah secara cantik. Bermainlah untuk bahagia tapi jangan mempermainkan kebahagiaan. Bila kita mempermainkan kebahagiaan berarti kita tidak jadi bahagia. Agama memperbolehkan kita bermain-main. Islam bahkan tak cuma membolehkan. Banyak ayat yang menyatakan bahwa dunia ini memang permainan.

 

selamat belajar!

One comment on “[baca buku] Menjadi Manusia, Menjadi Hamba”

  1. Aku setuju bahwa buku ini mengajak kita untuk merenungkan makna kehidupan dan hubungan kita dengan Yang Maha Kuasa. Menyentuh tentang pentingnya kesadaran diri dan tujuan hidup, membuat kita berpikir lebih dalam tentang bagaimana menjalani hidup yang lebih bermakna. Terima kasih telah merekomendasikan buku ini! Rasanya sangat cocok untuk dibaca bagi siapa pun yang ingin melakukan refleksi diri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *