Ulasan Buku: Berhenti Memenuhi Ekspektasi Orang Lain – Sherly Pitaloka

Kadang aku suka bertanya pada diri sendiri: sebenarnya hari ini aku melakukan semuanya karena aku benar-benar ingin, atau karena aku takut mengecewakan orang lain? Pertanyaan itu muncul lagi ketika aku membaca buku yang judulnya cukup menohok: Berhenti Memenuhi Ekspektasi Orang Lain karya Sherly Pitaloka.

Buku ini bukan sekadar ajakan untuk “jadi diri sendiri”, tapi lebih seperti lampu penerang di ruangan gelap—pelan tapi pasti mengarahkan langkah kita untuk kembali pulang kepada diri sendiri.

Berhenti Memenuhi Ekspektasi Orang Lain
Penulis : Sherly Pitaloka
Terbit : 2023
Penerbit : Solusi Multi Digital
ISBN : 978-623-96473-7-7

Hidup Dalam Ekspektasi Orang Lain: Capek, Ya?

Sebagai tenaga kesehatan masyarakat yang setiap hari bersinggungan dengan berbagai karakter manusia di Puskesmas, aku sering merasa harus menjadi serba bisa. Harus memuaskan atasan, harus bisa memahami rekan kerja, harus responsif kepada warga, harus jadi anak yang bisa diandalkan keluarga.

Rasanya kadang seperti hidup di panggung teater, dengan banyak sutradara tapi tanpa skrip yang jelas. Aku hanya berusaha tampil “baik” agar tidak ada yang kecewa—meski sering kali aku sendiri yang justru paling kecewa.

Buku Sherly membahas hal ini dengan sangat lembut: betapa kita sering melupakan diri sendiri demi mempertahankan validasi orang lain. Dan perlahan, kita kehilangan arah.

Sherly mengajak pembaca memahami akar masalahnya: mengapa kita begitu takut mengecewakan orang lain?
Jawabannya seringkali berakar dari masa kecil—dididik untuk menjadi “anak baik”, jarang diajarkan menolak, atau terbiasa mendapatkan cinta hanya ketika kita patuh.

Dan tiba-tiba, banyak momen dalam buku ini yang terasa seperti bercermin.
“Ah… mungkin ini sebabnya aku sering bilang ‘iya’ padahal hatiku teriak ingin bilang ‘tidak’.”

Pada bagian ini, Sherly tidak menggurui. Ia lebih seperti teman lama yang duduk di samping kita, sambil bercerita pelan-pelan agar kita tidak merasa sendirian.

Yang Membuat Buku Ini Berbeda dari Buku Self-Improvement Lain

1. Bahasanya ringan, humanis, dan sangat relatable

Tidak kaku sama sekali.
Tidak terasa seperti teori psikologi yang berat.
Lebih seperti seseorang yang menulis dari luka dan pemulihan yang ia alami sendiri.

2. Ada latihan refleksi yang benar-benar terasa bekerja

Sherly memberikan pertanyaan-pertanyaan sederhana tapi bikin merenung dalam, seperti:

  • Apa kebutuhan emosionalmu yang selama ini kamu abaikan?

  • Apa batasan yang ingin kamu bangun?

  • Di mana titik kamu mulai kehilangan dirimu?

Ini membuat buku ini terasa seperti workbook penyembuhan diri.

3. Ada contoh kasus yang nyata dan dekat dengan keseharian

Bukan cerita yang dibuat-buat. Semuanya masuk akal dan terasa seperti “aku banget” atau “temanku banget”.

4. Ia mengajarkan cara menolak tanpa harus merasa bersalah

Bagian ini favoritku. Sebagai orang yang terbiasa menjadi “penyama yang baik”, belajar menolak itu seperti belajar bahasa baru—asing tapi melegakan.

Hal-Hal Penting yang Bisa Kita Pelajari

Buku ini memberi banyak insight penting, beberapa di antaranya:

  • Kamu tidak bertanggung jawab atas perasaan semua orang.

  • Batasan bukan bentuk ketidakpedulian, tetapi bentuk penghormatan terhadap diri sendiri.

  • Hidup tanpa ekspektasi orang lain bukan berarti hidup egois.

  • Tidak apa-apa jika kamu tidak selalu tersedia untuk semua orang.

  • Yang paling penting: kamu berhak memilih hidupmu sendiri.

Buku ini bukan tentang menjadi pemberontak, tetapi tentang kembali menghormati diri—yang mungkin selama ini paling sering kamu abaikan.

Layak Dibaca Siapa?

Buku ini sangat cocok untuk:

  • Kamu yang sering merasa sulit menolak

  • Kamu yang hidup di bawah tekanan ekspektasi keluarga/lingkungan

  • Kamu yang mudah merasa bersalah ketika tidak memenuhi harapan orang

  • Kamu yang sedang belajar mencintai diri sendiri

  • Kamu yang ingin menjalani hidup lebih ringan dan lebih jujur

Dan kalau kamu bekerja di lingkungan publik seperti Puskesmas, sekolah, kampus, atau kantor layanan—percayalah, buku ini bisa jadi obat untuk hati yang capek.

Pada akhirnya, membaca buku Berhenti Memenuhi Ekspektasi Orang Lain terasa seperti diajak pulang ke diri sendiri—pelan, lembut, dan tanpa paksaan. Ia mengingatkan kita bahwa hidup tidak harus selalu tentang memenuhi harapan orang lain, tetapi tentang memilih diri sendiri dengan penuh kasih. Semoga ulasan ini bisa menjadi teman kecil di perjalananmu menemukan versi terbaik dari dirimu.

Kalau kamu pernah merasa terjebak dalam ekspektasi orang lain, atau punya pengalaman yang mirip, aku akan senang sekali membaca ceritamu di kolom komentar. Yuk, lanjutkan obrolannya bersama-sama. Dan kalau kamu suka ulasan seperti ini, jangan lupa mampir ke tulisan lainnya di furidisini.com untuk menemukan bacaan yang bisa menguatkan hatimu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *