Pernah nggak sih kamu ngebayangin skenario terburuk dalam hidup? Bukan, bukan dompet ketinggalan pas lagi antre bayar bakso. Tapi skenario ini: Kamu sudah sembuh dari luka, sudah siap menikah dengan orang baik, eh tiba-tiba si MANTAN (penyebab trauma terbesar) muncul lagi.
Bukan cuma muncul say hi, tapi semesta seolah ngasih waktu 23 Jam 59 Menit buat kalian berdua.
Premis gila inilah yang diangkat sama Mas Brian Khrisna di novelnya yang berjudul 23:59: Kau yang Tak Pernah Pulang dan Aku yang Selalu Menunggu.
Jujur, pas baca sinopsisnya, aku langsung auto pegang dada. “Waduh, bau-bau huru-hara perasaan nih,” batinku. Dan ternyata bener dong. Yuk, kita bedah novel yang bikin tensi darah naik turun ini!
Judul : 23:59 (Kau yang Tak Pernah Pulang dan Aku yang Selalu Menunggu)
Karya : Brian Khrisna
Editor : Linda Irawati
Terbit : Agustus, 2025
Penerbit : Gramedia Widisarana Indonesia
ISBN : 978-602-05-3150-2

Sinopsis: Antara Trauma, Obat Tidur, dan Calon Suami
Cerita berpusat pada Ami. Sosok wanita yang bisa dibilang hidupnya udah hancur lebur—seancur-ancurnya—gara-gara cowok bernama Raga.
Bayangin aja, ditinggal tanpa kejelasan (baca: ghosting level dewa), Ami berubah jadi mayat hidup. Rambut rontok, kantung mata kayak panda, berat badan terjun bebas, sampai harus temenan akrab sama ratusan butir obat tidur. Fix, ini bukan patah hati biasa, ini trauma psikis.
Tapi, hidup harus lanjut, kan? Hadirlah sosok Aransyah.
Aransyah ini ibarat malaikat penolong yang mungut kepingan hati Ami, ngelem ulang satu-satu, sampai Ami berani menatap masa depan lagi. Singkat cerita, mereka mau nikah. Happy ending?
Oh, tentu tidak semudah itu, Ferguso.
Di tengah persiapan nikah, Tuhan “iseng” mempertemukan Ami dan Raga lagi. Iya, Raga yang bikin Ami nyaris gila itu. Pertanyaannya cuma satu: Kenapa sekarang? Kenapa nggak pas Ami lagi nangis-nangis di pojokan kamar dulu?
Mereka cuma punya waktu kurang dari 24 jam. Waktu yang singkat untuk menjawab ratusan pertanyaan di kepala Ami:
-
“Apa kurangku?”
-
“Apa salahku kemarin?”
-
“Kenapa kamu pergi gitu aja?”

Review Jujur: Emosi Diaduk-aduk Kayak Adonan Kue
1. Konflik Batin yang Realistis (Banget!)
Membaca sudut pandang Ami tuh rasanya sesak. Brian Khrisna pinter banget mendeskripsikan depresi pasca-putus. Bukan cuma sedih-sedih manja, tapi sampai ke fisik (rambut rontok, kurus). Ini bikin kita sebagai pembaca jadi simpatik sekaligus protektif sama Ami. Rasanya pengen masuk ke buku terus teriak ke Ami, “Mbak, sadar Mbak! Aransyah udah nungguin!”
2. Dialog yang “Nusuk”
Khas Brian Khrisna, diksinya puitis tapi tajam. Percakapan antara Ami dan Raga di waktu yang sempit itu bener-bener intens. Ada tarik ulur ego, penyesalan, dan sisa-sisa rasa sayang yang (sialnya) masih ada.
3. Aransyah: The Unsung Hero atau Sad Boy Selanjutnya?
Di sini kita bakal diuji. Tim Balikan sama Mantan atau Tim Setia sama yang Ada? Kehadiran Aransyah bikin dilema Ami makin valid. Ninggalin orang yang nemenin kita dari nol demi orang masa lalu yang “katanya” tobat? Hmm, pilihan sulit.
Yang Bikin Gregetan (Awas Spoiler Tipis)
Konsep waktu 23 Jam 59 Menit itu brilian. Itu kayak ticking bomb. Kita dipaksa baca cepet karena penasaran: “Ini endingnya gimana woy? Keburu abis waktunya!”
Aku suka gimana penulis nggak bikin Raga jadi penjahat murni, dan Ami juga bukan malaikat suci. Mereka manusia. Raga punya alasan (meski klise atau nggak, kamu nilai sendiri nanti), dan Ami punya kelemahan.
Tapi tetep aja, kalau aku jadi temennya Ami, aku bakal siram Raga pakai air galon. Telat banget, Bang!

Kesimpulan: Baca Jangan?
BACA. Terutama kalau kamu:
-
Punya mantan yang ninggalin tanpa alasan (closure itu mahal, Jendral!).
-
Suka cerita yang menguras emosi dan air mata.
-
Lagi butuh validasi kalau cinta itu emang rumit.
Novel 23:59 ini mengajarkan kita bahwa kadang, pertanyaan “kenapa kita pisah?” itu jawabannya nggak selalu melegakan. Dan kadang, ikhlas itu bukan berarti melupakan, tapi merelakan dia jadi bagian masa lalu, biar kita bisa jalan sama orang baru di masa depan.
Rating: 4.7/5 (Poin plus buat Aransyah yang sabarnya setebal kamus).
Gimana menurutmu? Kalau kamu dikasih waktu 1 hari sama mantan terindah pas kamu udah punya pacar baru, kamu bakal ngapain? Ngajak ngopi atau pura-pura nggak kenal? Komen di bawah ya! Jangan lupa siapin tisu sebelum baca buku ini.



