Jujurly, pertama kali lihat cover buku ini di etalase e-commerce, otakku langsung merespons dengan satu sinyal primitif: LAPAR. Gimana enggak? Judulnya “Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati”. Ekspektasiku sederhana. Aku kira ini adalah novel kuliner, atau seenggaknya panduan spiritual menemukan mie ayam paling enak se-Jabodetabek sebelum ajal menjemput. Tapi, pas aku lihat nama penulisnya… Brian Khrisna. Ah, sial. Aku tahu orang ini. Ini adalah “chef” yang biasa masak perasaan orang sampai gosong. Penulis yang terkenal dengan Merayakan Kehilangan. Aku langsung sadar, buku ini nggak akan bikin perut kenyang, tapi kemungkinan besar bakal bikin hatiku yang “kenyang” (baca: eneg) sama drama kehidupan.…
-
-
Pernah nggak sih kamu merasa kalau kasur di hari Minggu pagi itu punya gravitasi sepuluh kali lipat lebih kuat? Rasanya dosa banget mau ninggalin selimut, apalagi di Magelang yang udaranya dingin-dingin empuk bikin mager. Tapi, demi sebuah legenda bernama Soto Ayam Pak Trimo Magelang, aku rela mematahkan hukum fisika itu. Lupakan leyeh-leyeh sampai siang. Minggu pagi ini misinya jelas: Bangun subuh, cuci muka (mandi urusan belakangan), dan tancap gas sebelum keduluan orang sekecamatan. Kenapa harus sedrama itu di hari libur? Karena warung soto yang satu ini punya jam operasional yang lebih disiplin daripada apel pagi. Telat sedikit, siap-siap gigit jari…
-
Pernah nggak sih kamu merasa capek banget sama drama kerajaan (saeguk/kostum) yang isinya cuma racun-racunan, sikut-sikutan antar selir, dan Raja yang galaknya minta ampun? Kalau iya, toss dulu! Kita satu frekuensi. Jujur, awalnya aku skeptis mau nonton “New Life Begins”. Judulnya terdengar klise banget, kayak judul motivasi pagi hari di grup WhatsApp keluarga. Tapi, karena yang main adalah Bai Jingting (mas-mas bucin yang acting-nya nggak pernah gagal) dan Tian Xiwei (si pemilik mata bulat yang gemesin), akhirnya aku coba nonton episode pertama. Dan… boom! Niat nonton satu episode, malah kebablasan maraton sampai subuh. Kenapa drama ini layak banget masuk watchlist…
-
Halo sobat lapar yang kalau ditanya “mau makan apa” jawabnya “terserah”! Jujurly, kemarin itu aku lagi nggak ada angin nggak ada hujan, tiba-tiba kayak kesambet jin “penasaran”. Bukan ngidam sih, tapi kayak ada bisikan ghaib yang bilang, “Fur, main ke Salatiga yuk, ada ramen enak loh.” Sebagai manusia yang lemah iman kalau soal perut, apalagi kalau denger kata “enak”, pertahanan dietku langsung runtuh seketika. Tanpa pikir panjang (dan tanpa hitung-hitung bensin), aku langsung gas tipis-tipis dari kota asalku menuju ke Salatiga. Tujuannya cuma satu: membuktikan kehebohan UNO Ramen Salatiga. Kira-kira effort perjalanan jauh ini bakal berbuah manis atau malah zonk?…
-
Pernah nggak sih kamu ngebayangin skenario terburuk dalam hidup? Bukan, bukan dompet ketinggalan pas lagi antre bayar bakso. Tapi skenario ini: Kamu sudah sembuh dari luka, sudah siap menikah dengan orang baik, eh tiba-tiba si MANTAN (penyebab trauma terbesar) muncul lagi. Bukan cuma muncul say hi, tapi semesta seolah ngasih waktu 23 Jam 59 Menit buat kalian berdua. Premis gila inilah yang diangkat sama Mas Brian Khrisna di novelnya yang berjudul 23:59: Kau yang Tak Pernah Pulang dan Aku yang Selalu Menunggu. Jujur, pas baca sinopsisnya, aku langsung auto pegang dada. “Waduh, bau-bau huru-hara perasaan nih,” batinku. Dan ternyata bener…
-
Tahun 2025 memberikan kita banyak kejutan di dunia dramaland, tapi hanya sedikit yang berhasil memadukan ketegangan misteri dengan visual attack sekuat Coroner’s Diary. Jika kamu mengira ini hanya remake atau cerita detektif standar, pikirkan lagi. Dibintangi oleh Landy Li (Li Landi) yang semakin matang aktingnya dan Ao Rui Peng yang karismatik, drama ini menawarkan paket lengkap: plot “identitas ganda”, kasus pembunuhan berantai yang dark, dan tentu saja, chemistry pasangan utama yang bikin senyum-senyum sendiri. Apakah drama ini layak menghabiskan kuota internetmu? Mari kita bedah. Sinopsis: Di Balik Pisau Bedah Ada Dendam Cerita bermula dari Shen Wan (Landy Li), putri pejabat…








